Butuh Barang Atau Jasa Dalam Keadaan Darurat? Sewa Aja di Sewasewa!

Butuh Barang Atau Jasa Dalam Keadaan Darurat? Sewa Aja!


Saya sering takjub ketika memperhatikan kembaran saya membuat list barang-barang yang ingin dibelinya, termasuk perabot rumah lengkap dengan pritilan perkakasnya. Soalnya tiap saya membuat list saya sering bengong lamaaa sekali, asli! Sungguh, bukan berarti saya makhluk yang enggak tertarik dengan kefanaan--jiah istilahnya--tapi memang bingung aja gitu. Tahu-tahu ketika dihadapkan pada satu peristiwa saat saya membutuhkan suatu barang, saya baru keingetan bahwa saya harusnya memasukkan barang itu ke dalam list. Seringnya peristiwa itu kondisi darurat lagi, jadi kadang enggak sempat untuk menabung untuk membelinya dulu, soalnya kan pokoknya-butuh-sekarang-juga! Misalnya nih butuh palu buat benerin gantungan. Atau perlu cetakan kue buat bikin kue-kue imut. Kalau butuhnya di jam-jam manusia normal beraktivitas sih masih bisa minjem ke tetangga sekitar rumah. Giliran malam hari, rasanya enggak enak mengetuk pintu tetangga. Ya kali kan mereka lagi khusyuk nonton drama kesayangan atau malah udah di dunia mimpi. Baru deh saya panik-panik enggak jelas. Langsung ngacir ke rumah sebelah alias rumah Evi sang kembaran. Untung banget punya kembaran rumahnya sebelahan. Terus diledek Evi deh, katanya, “Makanya disiapin!” O-o-o-oke! Iya kan saya enggak bisa selamanya bergantung sama dia. Kalau dia lagi pergi, gimana?

SIMILAR POSTS

Investasi Cryptocurrency Apa Itu?

Investasi Cryptocurrency Apa Itu?
Investasi Cryptocurrency Apa Itu? (Sumber gambar Pixabay)

Tahun 2018 saat sedang proses menulis novel genre psikologi thriller, saya mencekoki diri dengan bacaan dan tontonan serupa. Ceritanya biar menghayati, padahal hidup sendiri waktu itu sudah berasa banget psikologi thriller-nya. Eh, gimana-gimana? Ada satu drama Korea berjudul ‘Voice’ yang menyinggung tentang bitcoin. Kata itu masih asing di telinga saya. Biasanya saya menuliskan kata-kata yang belum familer atau menarik di buku catatan. Bitcoin ini termasuk ke dalam list. Cukup penasaran tapi belum sampai mencari tahu lebih jauh. Namun, samar-samar akhirnya saya tahu kalau bitcoin ini salah satu bentuk investasi cryptocurrency. Makhluk apalagi itu cryptocurrency? Pastinya bukan kryptonite, benda yang jadi kelemahan Superman. Sabar-sabar, nanti kita bahas.

SIMILAR POSTS

Masker Wajah Buatan Sendiri Untuk Kulit Sehatmu

Masker Wajah Buatan Sendiri Untuk Kulit Sehatmu


Saya termasuk orang yang suka males-malesan merawat wajah. Kadang enggak sadar umur ya. Kulit udah teriak-teriak mengibar-ngibarkan bendera S.O.S. Tapi suka enggak dipeduliin. Kasian-kasian-kasian…. Baru deh panik sendiri saat ngaca, ngeliat muka kekeringan kayak tanah enggak kesiram hujan berbulan-bulan, belum lagi pori-porinya yang membesar. Langsung merasa bersalah sendiri. Hal pertama yang saya pikirkan sebagai bentuk pertolongan pertama pada wajah adalah memakai masker muka. Soalnya selain praktis, memakai masker wajah ini bisa memakai berbagai bahan yang tersedia di dapur, semacam tomat, jeruk nipis, sampai putih telur.

SIMILAR POSTS

Liga Sepak Bola Berjenjang Piala Menpora 2019: Kompetisi Sekaligus Pencarian Atlet Berbakat

Liga Sepak Bola Berjenjang Piala Menpora 2019: Kompetisi Sekaligus Pencarian Atlet Berbakat
(Fotografer Arief Rachman)

Dalam satu sesi sharing mengenai impian di sebuah SD, saya menemukan banyak anak memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola. Sejak zaman saya bocah olahraga satu ini memang selalu menjadi primadona di kalangan para cowok. Namun, seingat saya, waktu kecil saya pernah juga bermain sepak bola di jam pelajaran olahraga. Meskipun enggak bisa menendang bola dengan benar--apalagi membuahkan gol--minimal saya merasakan euforianya. Jadi enggak heran kenapa sepak bola bisa sedisukai itu. Menontonnya saja sudah berasa ikutan olahraga jantung saking deg-degannya. Tambah lagi sekarang prestasi sepak bola Indonesia makin bersinar, seperti kemenangan Timnas Indonesia melawan Timnas Thailand dalam Piala AFF U-22 2019 lalu. Kita jadi makin optimis dengan perkembangan para atlet sepak bola.

SIMILAR POSTS

Jelajahi Trans Studio Bandung Bersama 100 Bloger Dalam Blogger Day 2019

Jelajahi Trans Studio Bandung Bersama 100 Bloger Dalam Blogger Day 2019


Ini kali pertama saya bergabung dalam acara Komunitas Blogger Crony. Setengah tak percaya ketika mendapat undangan untuk hadir dalam acara Blogger Day 2019 yang merupakan perayaan ulang tahun keempat Blogger Crony. Kelahiran, baik itu kelahiran seseorang maupun komunitas, selalu memberi efek besar dalam lingkup banyak kehidupan lainnya. Begitu magisnya kelahiran. Maka terasa patut dan wajar untuk memperingatinya, mensyukuri “keberadaan” dengan memaknainya minimal setahun sekali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Blogger Crony mengadakan kegiatan di hari kelahirannya. Komunitas yang berangkat dari buah pikir para pendirinya, menyatukan gagasan, memupuknya hingga berkembang, memberi wadah pertemuan pikir maupun raga bagi para anggotanya. Seperti pepatah bijak: Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Saya percaya, begitulah tujuan embrio setiap komunitas.

SIMILAR POSTS

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!


Sewaktu kecil, Jakarta di mata saya seolah kota yang tidak terjamah. Muncul di film-film yang saya tonton--kadang diam-diam atau hasil merengek supaya diizinkan--di TV pada Sabtu malam bersama keluarga. Terasa sejauh negeri dongeng dan menumbuhkan penasaran. Seperti apa sih rasanya menginjakkan kaki di sana? Memikirkannya saja sungguh menggairahkan. Saya tidak ingat kapan tepatnya pertama kali ke Jakarta. Kesan yang saya ingat samar-samar adalah: Oh… ternyata Jakarta itu panas. Ya ampun, polos banget ya. Setelah besar, Jakarta tak lagi terasa asing. Meski tidak tinggal di Jakarta, tapi acap kali saya pergi ke sana untuk urusan berbagai pekerjaan. Kadang singgah beberapa hari, sering kali hanya pulang pergi. 

Sebagai ibu kota dan salah satu kota sibuk di Asia Tenggara dan menduduki peringkat Sembilan sebagai kota terpadat di dunia versi World Economic Forum, wajar saja jika Jakarta memiliki banyak polemik di dalamnya. Apalagi kepadatan penduduknya kurang lebih mencapai 9.600-an jiwa tiap satu kilometernya. Tingkat stresnya pun besar karena tuntutan mobilitas tinggi. Kebutuhan mobilitas ini menyebabkan jumlah kendaraan di Jakarta kian meningkat. Tanpa harus membayangkan, tergambar jelas produksi polusi seperti apa yang dihasilkan. Menyebabkan paru-paru warga Jakarta setiap hari harus terkontaminasi polutan dengan jumlah besar. Belum bisa diprediksi juga kapan tren penambahan jumlah kendaraan pribadi ini akan berakhir. 

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!

Sekarang bayangkan jika 9.600 orang tiap satu kilometer persegi memiliki motor masing-masing, atau setidaknya setengahnya memiliki motor pribadi yang artinya tiap satu kilometer persegi ada 4.800 motor. Jakarta memiliki luas 661,5 kilometer persegi, maka total motor di Jakarta jika setengah penduduk tiap satu kilometer persegi memiliki motor adalah 3.175.200 motor. Banyakkan? Coba bayangkan polusi dari lebih dari tiga juta motor itu. Mengerikan? Ya iyalah. Iya, itu baru hitungan berdasar asumsi. Menurut data, mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pernah menyampaikan bahwa berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta tahun 2015 jumlah kendaraan roda 2 (motor) tercatat ada sebanyak 13,9 juta. Lebih banyak 10 juta-an dari asumsi tadi, dan itu baru tahun 2015. Apa kabarnya dengan jumlah motor di tahun 2019? Biasanya sih bertambah tahun bertambah jumlahnya.

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, “Kapan ya Jakarta tidak berpolusi? Kapan ya Jakarta tidak macet? Kapan ya Jakarta punya lingkungan yang bersahabat?” Bukan berarti tidak ada solusi yang bisa kita perjuangkan, lho. Konon ceritanya duku ketika warga Jakarta masih menerapkan pola hidup sehat seperti berjalan kaki, naik sepeda, dan naik kendaraan umum di era 70 atau 80-an, kita akan mendengar kisah hidup mereka di Kota Jakarta yang meski padat tapi berudara segar. Kemudian terbesit dalam kepala bahwa zaman telah berbeda. Betul, segalanya telah berubah. Tetapi bukankah tiap zaman selalu menyediakan solusi untuk semua masalah zamannya? Kita tetap bisa optimis. Ya, kita. Karena kuncinya ada pada kita, baik penduduk tetap Jakarta maupun pelancong seperti saya.

Sumber foto mojok dot co
Keoptimisan kita bisa ditindaklanjuti lewat aksi nyata, yaitu dengan naik kendaraan umum. Yakin deh dengan naik kendaraan umum bisa mengurangi polutan dan kemacetan. Seperti yang kita ketahui, pembangunan transportasi umum terus dilakukan dan dibuat senyaman mungkin. Misalnya nih busway. Kalaupun ada pelayanan yang kurang memuaskan, ya maklumlah namanya juga lagi berproses. Memangnya Lionel Messi pas lahir langsung jadi Top Scorer di Liga Spanyol? Kan tidak, Fergusi the Jelly.… Pemerintah lewat Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek juga telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membantu mempercepat perubahan Jakarta ke arah lebih baik. Tinggal kitanya, mau enggak ikut berpartisipasi? Kita pastinya tidak mau, kan, mewariskan sesak dan polusi Jakarta pada generasi penerus. Saya percaya kita tidak setega itu. Cukup Rangga saja yang jahat ke Cinta, atau Cinta yang jahat ke mantan tunangannya, eh. Mungkin awalnya terasa canggung ya naik bus, tapi lama-lama akan terbiasa dan menemukan hal-hal berharga dalam perjalanan. Yuk, naik kendaraan umum saja. Sampai jumpa di busway atau kereta.

SIMILAR POSTS

Preman Pensiun: Lika-Liku Masa Pensiun



Perjuangan untuk menonton film ini lumayan sulit. Dua hari berturut-turut kehabisan tiket! Dan itu bukan hanya terjadi pada saya, beberapa penonton yang ikut mengantre juga mesti menunda keinginan mereka untuk menyaksikan pertunjukan Kang Mus dan kawan-kawan. Antusiasme penonton memang luar biasa! Soalnya banyak yang datang bersama rombongan teman atau keluarga. Seperti membuktikan bahwa kisah-kisah keseharian dan jalanan selalu layak untuk diangkat. Premis yang ternyata menjanjikan. Rasanya lega ketika akhirnya duduk di dalam studio, melihat laga para preman yang telah pensiun.

Preman Pensiun: Lika-Liku Masa Pensiun

Film Preman Pensiun merupakan kelanjutan dari sinetron tiga season yang ditayangkan mulai tahun 2015 lalu. Sempat agak was-was apakah saya bisa mengikuti ceritanya karena belum pernah menonton serialnya sebelumnya. Ternyata kekhawatiran saya berlebihan. Kisah di film ini utuh dan dapat dimengerti oleh penonton yang awam seperti saya.



Seperti judulnya, film yang skenarionya ditulis dan disutradarai Aris Nugraha ini menceritakan tentang para preman yang memilih pensiun. Cerita digulirkan dari ikrar kepensiunan mereka sebagai preman dengan diwakili pernyataan dari Kang Mus (Epi Kusnandar) untuk mewujudkan tuah pimpinan mereka sebelumnya yaitu Kang Bahar (Alm. Didi Petet) agar anak-anak buahnya ‘memiliki bisnis yang bagus dan juga bisnis yang baik’. Sebuah pembukaan yang tidak basa-basi, apalagi berlanjut ke konflik, yaitu adegan pengeroyokan Dayat oleh tiga preman di pasar baru. Terus terang, pada scene ini suguhan laganya terlihat agak kurang meyakinkan. Tapi tenang… selanjutnya digarap dengan baik. Adegan perkelahian Dayat itu menghadirkan tanda tanya besar. Ada apa? Kenapa?
Namun kemudian, cerita sempat mengalir saja, tidak kokoh pada fondasi. Seperti keluar dari jalur konflik utama dengan menghadirkan sub-sub konflik yang irisannya tampak tidak tebal. Seperti masalah protektifnya Kang Mus pada anak gadisnya--Safira (Maharani Farsya)--yang sedang dekat dengan seorang mahasiswa. Lalu bisnis kicimpring yang sepi pembeli, sampai urusan rumah tangga Dikdik (Andra Manihot) dengan istrinya. Secara garis besar memang semua adegan itu dapat menggambarkan dengan baik apa-apa saja yang dilakukan para preman dalam menjalani kehidupan baru mereka. Meski tampak acak, saya ikut hanyut dalam aliran kisahnya. Memang, bukan berarti konflik utama lepas begitu saja, kisah diikat oleh kehadiran Gobang (Dedi Moch. Jamasari) yang mengumpulkan para preman pensiun untuk satu tujuan pribadi. Kemisteriusan itulah yang kelak dipersiapkan sebagai twist atau gong cerita. Btw, Kang Gobang ini tokoh favorit saya. Kharismatik sekali.

Nonton bareng kembaran

Meski sarat komedi, film Preman Pensiun memberi makna dalam untuk penontonnya. Pada awalnya, penonton diajak banyak tertawa oleh tingkah para tokoh dan dialog mereka. Termasuk saya, tahu-tahu saya menemukan diri sedang tersenyum atau tertawa. Entah berapa kali ledakan tawa terdengar dalam studio, memperlihatkan betapa penonton menikmati suguhan film ini. Kekuatan karakter yang bangunannya kuat dan akting natural para pemainnya menjadi kunci. Kesimpulan saya, cerita memang berfondasi pada pengembangan karakter. Keputusan dan tindakan yang diambil jelas alasan dan motivasinya. Kisah lalu bergerak pada adegan-adegan serius yang menguras air mata. Setidaknya ada empat kali saya menangis.

Konsep dialognya menarik, menyambung dari satu adegan ke adegan. Konsisten hampir dari awal hingga akhir. Walaupun ada beberapa bagian yang agak maksa. Tapi selebihnya terasa mulus. Dialog jugalah yang memiliki peranan penting menyampaikan makna dalam tadi. Disampaikan pada saat yang tepat sehingga bukan menjadi parade kalimat quotable omong kosong. Terasa jleb! Betapa merasuknya kalimat “Setiap pertanyaan harus terjawab di kamu, dan setiap permasalahan harus selesai di kamu”. Kalimat itu bukan hanya cocok untuk kasus dalam film ini, tapi saya menangkap filosofis untuk setiap kita. Bahwa masing-masing kita sering kali memiliki pertanyaan yang sulit dijawab, dan permasalahan yang efeknya menyebar pada orang-orang sekeliling kita.



Saya paling terkesan pada musiknya. Berhasil membangun suasana, dan kental kesundaannya. Apalagi pada adegan perkelahian yang justru memilih latar lagu romansa. Tapi dapat mencekamnya! Ditambah lagi latar film yang mengambil gang-gang, pasar, perumahan warga biasa, dan terminal yang diwarnai dengan indah sehingga menambah kepuitisannya.

Saya menasbihkan sepertiga akhir film sebagai bagian terbaik. Gereget! Klimaks di ending. Saya puas dengan ending-nya, yang bagi saya tidak gantung. Tahu-tahu saya menemukan diri menangis sesenggukan di akhir film. Rasanya tidak rela ketika lampu dinyalakan petugas bioskop.

Bukan rahasia, bahwa keluar dari lubang hitam butuh keberanian besar. Selalu ada lika-liku dan cobaan yang memanggil untuk kembali ke jalan yang lama. Perlu keteguhan, kerja keras, dan dukungan banyak pihak untuk tetap berjalan di rel baru yang dipilih. Kang Mus dan semua anak buahnya menjadi cerminan, betapa kehidupan jalanan memiliki banyak sisi. Jalanan dengan segala dinamikanya menjadi tempat bertumbuh, menemukan keluarga, mencari jati diri dan memakna kehidupan.


Secara keseluruhan menonton ini tidak membuat saya berpikir sedang menonton sinetron. Layak ditonton dan diapresiasi.

3,5 dari 5 bintang.

SIMILAR POSTS