UMAMI Cita rasa Kelima Penggugah Selera Makan


Meskipun hanya bisa masak makanan yang tergolong dalam kategori “survive” atau hanya layak makan, namanya anak memang menganggap masakan ibunya enak. Rasanya senang sekali tiap melihat Rasi menghabiskan makanan dengan cepat dan muka semringah mengatakan, “Masakanan Mama enaaaak...!” Enggak selalu tiap saya masak dapat pujian sih, terkadang dia makannya lama dan enggak berkomentar apa-apa sebelum saya tanya. Kemudian dijawab dengan polosnya masakan saya kurang ini atau kurang itu. Bener juga sih kalau ada yang bilang “Percuma masak makanan bergizi kalau enggak dimakan karena rasanya enggak enak” soalnya gizinya ya enggak diserap tubuh juga.
Dalam memasak saya mencontoh 3 resep mama saya, yaitu bawang, garam, dan micin. Terbukti masakan mama saya enggak pernah gagal, sesederhana apa pun itu. Meskipun tetap ya ada penilaian subjektif saya sebagai anaknya. Sejak dulu saya memang enggak anti sama micin, walaupun sempat termakan rumor kalau micin itu berbahaya buat tubuh. Tapi ya hanya terima-terima saja tanpa menjauhi sang micin. Alasannya memang sesimpel karena micin bikin makanan enak. Namun, tentang bahaya micin itu sebenarnya hoax apa fakta sih?

Blogger gathering bertema “Eat Well Live Well”

UMAMI Cita rasa Kelima
Sebelum menjawab pertanyaan tadi, kita kenalan dulu dengan UMAMI si citarasa dasar kelima.
Beberapa waktu lalu saya mengikuti acara blogger gathering bertema “Eat Well Live Well” yang menghadirkan Pak Purwiyatno Hariyadi seorang profesor pada Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, juga Vice Chairman, Codex Alimentarius Commision, FAO/WHO.

Menurut Prof. Purwiyatno fungsi pangan terbagi menjadi 3, yaitu:
1.    Fungsi utama pangan sebagai sumber zat-zat gizi.
2.    Fungsi kesehatan.
3.    Fungsi pangan sebagai sumber kenikmatan.



Dalam mencecap rasa di lidah, kita mengenalnya sebagai cita rasa. Ada 5 jenis cita rasa dasar yaitu manis, asam, asin, pahit, dan... umami. Yes! Ada yang namanya cita rasa umami alias rasa gurih. Zaman dulu manusia kan sedang mengenal jenis-jenis makanan apa saja di alam yang bisa dimakan dan enggak. Setiap rasa ini ngasih informasi atau sinyal pada tubuh makanan apa yang bagus dan enggak buat dimakan beserta sebagai sumber gizi apa.
Berikut penjelasan Prof. Purwiyatno:
-    Manis: sumber energi.
-    Asin: sumber mineral.
-    Asam: potensi busuk atau rusak.
-    Pahit: potensi beracun.
-    Umami: sumber protein.

Pak Purwiyatno Hariyadi menjelaskan tentang UMAMI
Sejarah Penemuan UMAMI
Seorang ilmuwan dari Jepang bernama Dr. Kikunae Ikeda melihat beda postur antara orang Jepang dengan Eropa. Beliau berpikir, kenapa orang Eropa lebih besar dan tinggi ketimbang orang Jepang? Apakah ada di perbedaan banyaknya makanan yang dikonsumsi? Dr. Ikeda kemudian mencari cara bagaimana agar orang Jepang lebih banyak makan, tentunya harus dirangsang oleh makanan yang lezat. Dr. Ikeda lalu meneliti bahan apa yang dapat membuat makanan enak. Di Jepang sendiri ada yang namanya “dhasi” kuah yang menjadi dasar masakan khas Jepang. Bahan utama dari dhasi ini adalah konbu yang merupakan sejenis rumput laut.  Hasil penelitian beliau adalah konbu memiliki komponen utama asam glutamat yang memberikan sensasi cita rasa UMAMI, karena bukan manis, asam, asin, apalagi pahit. Dr. Ikeda kemudian mempublikasikan penelitiannya di “the 8th International Congress of Applied Chemistry, AS, pada tahun 1912.

Bersama Pak Purwiyatno Hariyadi
Mengenai Micin alias MSG Pembangkit Rasa UMAMI
Rasa UMAMI atau gurih bisa dibangkitkan oleh Mono Sodium Glutamate (MSG) yang kita kenal sebagai micin. MSG memiliki kandungan ‘asam glutamat’ alias asam amino yang dibutuhkan makhluk hidup sebagai penyusun protein. Apalagi bahan bakunya kan alami, dari tebu. Komposisinya sendiri adalah 78% Asam Glutamat, 12% Natrium, dan 10% Air. Jadi MSG ini aman. Kalaupun ada yang makan MSG ada indikasi alergi, itu reaksi yang sama seperti alergi pada makanan lain. Misalnya kembaran saya alergi udang, Rasi alergi telur.
Lalu seberapa banyak penggunaan yang aman? Kata Prof. Purwiyatno sih enggak ada pembatasan khususnya, tapi dari lidah bisa merasakan takaran yang pas. Kayak kalau kebanyakan garam kerasanya keasinan sampai makanan enggak bisa dimakan. Memang yang pas itu selalu bikin enak, misalnya pas lapar ada temen yang traktir makanan. Intinya sih MSG itu aman dikonsumsi tubuh.

Demo masak Chef Deny Gumilang

Resep Dapur UMAMI dari Chef Deny Gumilang
Seusai menyimak penjelasan dari Prof. Purwiyatno kami melihat demo masak Chef Deny Gumilang yang menyajikan resep khususnya untuk kami praktikkan di rumah. Ada 3 masakan yang terang bikin saya ngiler. Ketiga resepnya adalah mi kocok Bandung, steak ayam sambal matah, dan chicken milanese valdostana yang tentunya memakai tambahan bumbu penyedap Ajinomoto. Beruntungnya kepenasaran saya terobati karena bisa merasakan mi kocok Bandungnya. Enak? Enak dong! Terakhir, kami diberi tantangan menata makanan di atas piring. Urusan plating ini enggak segampang kelihatannya. Hasil plating saya pun tampak... ya gitulah.



Steak ayam sambal matah masakan Chef Deny Gumilang


Mi kocok Bandung masakan Chef Deny Gumilang

Ada satu hal lagi nih yang jadi keinginan saya: melihat sendiri proses pembuatan Ajinomoto. Tampaknya bulan depan akan terwujud. Nanti saya ceritakan ya. Tunggu aja postingannya ^^


Plating absurd saya

SIMILAR POSTS

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Disabilitas Untuk Inspirasi Dunia

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Sepulang menyaksikan pawai obor Asian Para Games di Pangkalpinang, hati saya terusik. Ketika bibir mengatakan 'gelorakan semangat atlet disabilitas', suara saya terasa tersangkut di tenggorokan. Ada yang membuat gelisah hingga suara tak lepas. Satu pertanyaan membayang, "Adakah yang sudah saya lakukan, sedikitnya untuk selangkah saja lebih dekat?" Saya pikir, minimal saya mesti memperhatikan komunikasi dengan teman-teman disabilitas. Malam itu keinginan saya untuk belajar bahasa isyarat menyeruak kembali. Sesungguhnya memang sudah sejak lama saya dan Evi—kembaran—ingin belajar bahasa isyarat. Tapi... belajar pada siapa?

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia
Bersama Kang Chris dan Kang Ivan

Semesta selalu menjawab dengan caranya sendiri. Esoknya, Mas Christianto Harsadi menghubungi WhatsApp saya untuk membicarakan keberangkatan kami dari Bandung untuk menghadiri pawai obor di Jakarta. Kang Chris memperkenalkan diri sebagai perwakilan dari Komunitas Disabilitas bersama Kang Ivan Octa Putra. Maka ketika kami bertemu di kereta, saya langsung menyampaikan keinginan saya. Betapa gembiranya, karena kedua sahabat difabel itu sangat antusias dan sabar mengajari si kembar. Diajarilah kami dasar-dasar bahasa isyarat. Jadilah sepanjang jalan menuju hotel terasa hidup, menyenangkan, dan berlimpah pengetahuan. Kami menjadi tahu, ternyata, seperti bahasa daerah, tiap kota memiliki bahasa isyaratnya sendiri. Dan ada bahasa isyarat yang dipakai internasional.

Tambah lagi ketika makan malam, teman-teman lain pun diajari bahasa isyarat. Kami bersama-sama mengeja “Asian Para Games 2018, nyalakan semangat!” Kurang lebih, itu salah satu bentuk mengapresiasi dan memaknai spirit Asian Para Games.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Baca kisah saya sebelumnya saat menyaksikan pawai obor Asian Para Games 2018 di Pangkalpinang.


Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Disabilitas Untuk Inspirasi Dunia

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia
Teman-teman dari komunitas difabel
Melihat dengan mata telanjang pawai obor Asian Para Games di Pangkalpinang saja rasanya sudah seperti mimpi, betapa bungahnya ketika saya bisa melihatnya lagi di kota tujuan terakhir: Jakarta.
Jadwal hari itu, tanggal 30 September 2018, lebih pagi dan memang rangkaian acaranya lebih panjang. Matahari sudah bersinar dengan gembiranya ketika rombongan kami sampai ke balaikota. Tampak wajah-wajah ceria memenuhi halaman balaikota. Mulai dari berbagai komunitas, pengisi acara, panitia, pewarta, warga Ibu Kota, sampai anak-anak sekolah. Berkali-kali teman-teman dari komunitas disabilitas meneriakkan yel-yel mereka. Seluruh pemandangan itu membuat dada saya gaduh oleh semangat.


Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia


Tak lama, acara pun dibuka. Lagu Indonesia Raya dikumandangkan. Kami menyanyikannya bersama dengan bangga. Tak peduli jika suara kami fals atau tak enak didengar. Kemudian doa-doa terbaik kami panjatkan meminta kesuksesan acara. Setelah itu panggung disemarakan oleh tarian Kembang Serunai yang berhasil membuat mata kami terpaku. Disusul pemberian sambutan dari Pak Welly sebagai Ketua Paralympic Indonesia, lalu Pak Raja Sapta Oktohar sebagai Ketua INAPGOC, terakhir Pak Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa Asian Para Games adalah perwujudan kesempatan dan kesetaraan bagi sahabat difabel.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Kita menginjak bumi yang sama, menghirup udara yang juga sama, betapa indahnya ketika kita semua bisa bersinar dengan cara sendiri.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Sesi pertama diakhiri dengan penyerahan obor dari Pak Raja Sapta Oktohar pada Pak Anies Baswedan yang merupakan pembawa obor pertama dalam kirab di kota tujuan terakhir ini. Api abadi yang tampak berkobar-kobar di obor seperti perlambang bahwa Indonesia siap menjadi tuan rumah yang baik.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Arak-arakan mulai bergerak menuju Bundaran HI yang dibagi menjadi 20 pos. Setiap pos obor diestafetkan pada pemegang yang berbeda. Seperti Najwa Shihab, Bambang Pamungkas, Nirina Zubir, Sheryl, dan sahabat difabel

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia


Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Sahabat-sahabat dari komunitas difabel tampak berjajar di depan, dari ekspresinya saja dapat kita rasakan semangat tulus yang menular. Berbeda dengan pawai obor di Pangkalpinang, kali ini di sepanjang jalan, lagu yang diperdengarkan adalah lagu Song of Victory versi berbagai bahasa yang dinyanyikan musisi berbagai negara peserta. Pawai kali ini disemarakan ondel-ondel khas Betawi yang berlenggak-lenggok mengikuti musik, para pembawa bendera, kemudian ada pencak silat, para pemusik jimbe, dan arak-arakan berkostum berbagai negara peserta yang dengan cantiknya menarikan koreografi khas negara masing-masing.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Penonton yang berjajar mulai dari adik-adik berseragam hingga berbagai lapisan masyarakat termasuk para pedagang tampak di kiri kanan jalan, menyemuti pawai yang berjalan di tengah jalan. Mereka begitu berseri-seri, dan tampak sesekali mengabadikannya. Tak sekadar merekamnya dalam gawai dan kamera masing-masing, tapi menyimpannya sebagai kenangan menghangatkan hati yang kelak diputar berulang-ulang dalam kepala.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Ketika pawai sampai ke Bundaran HI, arak-arakan berlanjut memakai kendaraan menuju gedung Kemenpora RI. Mobil-mobil beriring-iringan membelah jalanan disambut gembira teriakan warga Jakarta. Terik matahari seolah menjadi amunisi semangat kian menyala.

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia
Si kembar tiba di gedung Kemenpora RI

Sekali lagi, keharuan menggetarkan dada. Semua bisa berprestasi dalam segala bidang, termasuk olahraga. Rasa kemanusiaan, cinta, dan sportifitas menebas dan membungkam segala bentuk diskriminasi. Saya percaya itu bukan sekadar sebentuk jargon. Betapa kita dipersatukan oleh harapan dan doa yang dilayangkan untuk para atlet difabel yang siap menorehkan sejarah. Mengisnpirasi dunia! 

Antusias Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Jakarta Bentuk Dukungan Bagi Atlet Difabel Untuk Inspirasi Dunia

Sayup-sayup dari sekarang kita bisa mendengar atlet-atlet difabel Indonesia menyanyikan Song of Victory. Nyanyian kemenangan persembahan untuk Ibu Pertiwi.


Bersama panitia, tim dokumentasi, dan para influencer siap menyukseskan Asian Para Games 2018

SIMILAR POSTS

Meresapi Semangat Atlet Disabilitas Dalam Pawai Obor Asian Para Games 2018 di Pangkalpinang



Rasanya tak menyangka bisa menjadi bagian dari Asian Para Games, sebuah acara multiolahraga internasional yang diikuti atlet difabel se-Asia. Terus terang, sejak awal mengetahui event ini, saya sangat ingin terlibat dan berkontribusi di dalamnya. Sekecil apa pun bentuknya.  Maka ketika kami mendapat kesempatan melihat kirab secara langsung di Pangkalpinang tanggal 26 September lalu, saya merasa seperti impian menjadi nyata.

Sumber gambar website Asian Para Games 2018


Mengenal Asian Para Games
Acara Asian Para Games (APG) masih terdengar agak asing di telinga. Memang dalam sejarahnya event ini baru diselenggarakan tiga kali di tingkat Asia. Bisa dikatakan terbilang baru. Pertama kali dilaksanakan pada tahun 2010 di Guangzhou, Cina. Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 2014, Korea Selatan menjadi tuan rumah kedua. Tahun ini, Asian Para Games 2018 akan berlangsung di Jakarta pada 6-13 Oktober mendatang di Gelora Bung Karno, Jakarta International Velodrome dan JIExpo. Diikuti oleh 42 negara yang melibatkan lebih dari tiga ribu atlet difabel.
Ada 18 cabang olahraga yang dipertandingkan, yaitu panahan, bulutangkis, boccia, catur, goalball, judo, bowling lapangan, angkat besi, atletik, bersepeda, menembak, berenang, tenis meja, tenpin bowling, bola volley, bola basket kursi roda, anggar kursi roda, dan tenis kursi roda. Berbagai cabang olahraga tadi dibagi menjadi 528 nomor pertandingan.

Maskot APG bernama MOMO (Sumber gambar website Asian Para Games 2018).

Maskot Asian Para Games 2018
Asian Para Games 2018 juga punya maskot nih. Kita kenalan dulu, yuk! Namanya MOMO. Nah, ternyata MOMO itu singkatan dari motivasi dan mobilitas. Cakep, ya! Momo ini jenis Elang Bondol yang tinggal di Pulau Seribu. Tapi... spesiesnya terancam punah. Mesti kita jaga nih keberadaannya di bumi.




Meresapi Semangat Atlet Disabilitas Dalam Pawai Obor di Pangkalpinang
Menceritakan pengalaman ikut dalam pawai obor Asian Para Games di Pangkalpinang membuat saya mendadak kehilangan kata-kata. Bahkan kata ‘mengesankan’ rasanya terlalu dangkal melukiskannya. Semoga saya dapat mengisahkannya dengan sederhana, makna yang saya dapatkan dari pengalaman ini.

Pemandangan dari atas

Ini merupakan pertama kali saya menjejakkan kaki ke Pangkalpinang, hal itu saja sudah memacu adrenalin. Perjalanan menaiki pesawat dari Bandung yang sempat transit dulu di Batam mengharuskan saya melakukan dua kali perjalanan udara. Biasanya, saya selalu merasa takut tiap kali berada di pesawat, kali ini berbeda. Melihat awan-awan putih membentuk bulatan di antara birunya angkasa membuat hati tenang, sambil membayangkan tanah putih di Pangkalpinang. Malam itu ombak pantai yang tenang dan cahaya dari bulan bulat penuh seolah menyapa saya ramah, di telinga saya seakan mendengar bisikan selamat datang.

Pangkalpinang

Paginya saya, Evi, dan rombongan bergerak menuju Jembatan Emas. Tempat yang menjadi titik awal pawai obor Asian Para Games 2018 di kota ketujuh yang dilewati obor yang dinyalakan oleh api abadi dari Mrapen, Grobogan. Selain bisa melihat secara langsung pawainya, saya dan Evi mendapat kehormatan lainnya, kami diizinkan menyentuh dan berfoto dengan obor bersejarah itu. Yang kemudian kami ketahui ternyata buatan Indonesia karya sang pawang obor Kang Goy Gautama.

Bersama teman-teman menunggu detik-detik acara pembukaan pawai obor di Pangkalpinang
Matahari merambat naik, panasnya mulai membakar kulit, dan Jembatan Emas kian terlihat terang. Perlahan jembatan bergerak turun. Membukakan penglihatan kami pada obor menyala yang telah melewati kota Medan. Diarak bersama barongsai dan para pemusik. Ketua INAPGOC, Pak Raja Sapta Oktohar lalu menyerahkan estafet obor kepada Gubernur Bangka, Belitung, Bapak Babel Erzaldi Rosman. Setelah seremoni selesai, dimulailah petualangan sang obor menuju titik akhir pawai: Alun-Alun Taman Merdeka.



Pada awalnya, saya bersama teman-teman mengikuti pawai dengan menaiki mobil bak terbuka. Kendaraan kami berjarak dua-tiga mobil dari mobil pembawa obor. Theme song Asian Para Games 2018 diperdengarkan. Itulah kali pertama saya mendengarnya secara utuh, dan saya langsung jatuh cinta pada “Song of Victory”. Aransemen musiknya yang terasa sekali rasa Indonesianya, liriknya yang penuh motivasi, berenergi, sekaligus membawa serta semangat persaudaraan tanpa sekat dan perbedaan apa pun, menyentuh relung hati saya. Ditambah pemandangan sepanjang jalan, di mana saya melihat masyarakat Pangkalpinang, mulai dari adik-adik berseragam SD, SMP, SMA, hingga seluruh lapisan masyarakat berjajar memberi penyambutan antusias dan larut dalam keriangan pesta olahraga ini. Padahal matahari begitu teriknya, tapi wajah-wajah itu tak menampakkan lelah apalagi keluar keluhan dari bibir mereka. Sesekali obor dibawa menepi, memberi waktu bagi masyarakat melihat dari dekat. Mereka meneriakkan yel-yel dengan semangat membara. Dari ekspresi mereka, dapat saya rasakan dukungan tulus untuk para atlet difabel yang kelak berjuang sekuat tenaga untuk negeri. Sungguh menggetarkan!



Obor kemudian diarak berjalan kaki melewati 15 pos, yaitu sekitar dua kilometeran dari titik akhir pawai, dibawa oleh pembawa obor yang berbeda di tiap posnya. Beberapa di antaranya adalah perwakilan sahabat difabel. Kemeriahan makin terpancar dengan kehadiran kawan-kawan berbagai perwakilan, termasuk sekolah SLB. Mereka mengenakan berbagai kostum daerah. Turut serta juga marching band dan para pembawa bendera berbagai negara peserta Asian Para Games 2018. Seorang teman berseloroh, “Pecah!” Nyatanya, begitulah suasananya. Sepanjang jalan, saya tak hentinya tersenyum, terbawa oleh wajah-wajah semringah yang saya temui. Merasakan kemeriahan yang datang dari kebahagiaan yang tulus dan sederhana.

Adik-adik dari sekolah SLB.


Kaki-kaki kami sampai ke tujuan. Di Alun-Alun Taman Merdeka sudah berdiri panggung untuk mempertunjukkan berbagai hiburan. Sebelum acara siang itu berakhir, kami ber-flash mob Song of Victory, menari bersama-sama dalam keceriaan. Memancarkan energi positif, tanpa kata kami bicara event ini milik kita semua. Mengutip kalimat Kang Yoga, salah satu panitia, “Mari berusaha sepenuh hati, kita sedang beribadah untuk negara.”



Kita sampaikan pada dunia, atlet-atlet difabel siap menebar inspirasi. Semangat mereka layaknya api abadi.

Di kepala saya terngiang-ngiang lirik lagu Song of Victory.
Live it up
Be the world's inspirations
Show the beauty who you really are
Breaking down all the discriminations
Together we stand till the end


SIMILAR POSTS