Liga Sepak Bola Berjenjang Piala Menpora 2019: Kompetisi Sekaligus Pencarian Atlet Berbakat

Liga Sepak Bola Berjenjang Piala Menpora 2019: Kompetisi Sekaligus Pencarian Atlet Berbakat
(Fotografer Arief Rachman)

Dalam satu sesi sharing mengenai impian di sebuah SD, saya menemukan banyak anak memiliki cita-cita menjadi pemain sepak bola. Sejak zaman saya bocah olahraga satu ini memang selalu menjadi primadona di kalangan para cowok. Namun, seingat saya, waktu kecil saya pernah juga bermain sepak bola di jam pelajaran olahraga. Meskipun enggak bisa menendang bola dengan benar--apalagi membuahkan gol--minimal saya merasakan euforianya. Jadi enggak heran kenapa sepak bola bisa sedisukai itu. Menontonnya saja sudah berasa ikutan olahraga jantung saking deg-degannya. Tambah lagi sekarang prestasi sepak bola Indonesia makin bersinar, seperti kemenangan Timnas Indonesia melawan Timnas Thailand dalam Piala AFF U-22 2019 lalu. Kita jadi makin optimis dengan perkembangan para atlet sepak bola.

SIMILAR POSTS

Jelajahi Trans Studio Bandung Bersama 100 Bloger Dalam Blogger Day 2019

Jelajahi Trans Studio Bandung Bersama 100 Bloger Dalam Blogger Day 2019


Ini kali pertama saya bergabung dalam acara Komunitas Blogger Crony. Setengah tak percaya ketika mendapat undangan untuk hadir dalam acara Blogger Day 2019 yang merupakan perayaan ulang tahun keempat Blogger Crony. Kelahiran, baik itu kelahiran seseorang maupun komunitas, selalu memberi efek besar dalam lingkup banyak kehidupan lainnya. Begitu magisnya kelahiran. Maka terasa patut dan wajar untuk memperingatinya, mensyukuri “keberadaan” dengan memaknainya minimal setahun sekali. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Blogger Crony mengadakan kegiatan di hari kelahirannya. Komunitas yang berangkat dari buah pikir para pendirinya, menyatukan gagasan, memupuknya hingga berkembang, memberi wadah pertemuan pikir maupun raga bagi para anggotanya. Seperti pepatah bijak: Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Saya percaya, begitulah tujuan embrio setiap komunitas.

SIMILAR POSTS

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!


Sewaktu kecil, Jakarta di mata saya seolah kota yang tidak terjamah. Muncul di film-film yang saya tonton--kadang diam-diam atau hasil merengek supaya diizinkan--di TV pada Sabtu malam bersama keluarga. Terasa sejauh negeri dongeng dan menumbuhkan penasaran. Seperti apa sih rasanya menginjakkan kaki di sana? Memikirkannya saja sungguh menggairahkan. Saya tidak ingat kapan tepatnya pertama kali ke Jakarta. Kesan yang saya ingat samar-samar adalah: Oh… ternyata Jakarta itu panas. Ya ampun, polos banget ya. Setelah besar, Jakarta tak lagi terasa asing. Meski tidak tinggal di Jakarta, tapi acap kali saya pergi ke sana untuk urusan berbagai pekerjaan. Kadang singgah beberapa hari, sering kali hanya pulang pergi. 

Sebagai ibu kota dan salah satu kota sibuk di Asia Tenggara dan menduduki peringkat Sembilan sebagai kota terpadat di dunia versi World Economic Forum, wajar saja jika Jakarta memiliki banyak polemik di dalamnya. Apalagi kepadatan penduduknya kurang lebih mencapai 9.600-an jiwa tiap satu kilometernya. Tingkat stresnya pun besar karena tuntutan mobilitas tinggi. Kebutuhan mobilitas ini menyebabkan jumlah kendaraan di Jakarta kian meningkat. Tanpa harus membayangkan, tergambar jelas produksi polusi seperti apa yang dihasilkan. Menyebabkan paru-paru warga Jakarta setiap hari harus terkontaminasi polutan dengan jumlah besar. Belum bisa diprediksi juga kapan tren penambahan jumlah kendaraan pribadi ini akan berakhir. 

Kurangi Kemacetan Jakarta dengan Menaiki Bus, Yuk!

Sekarang bayangkan jika 9.600 orang tiap satu kilometer persegi memiliki motor masing-masing, atau setidaknya setengahnya memiliki motor pribadi yang artinya tiap satu kilometer persegi ada 4.800 motor. Jakarta memiliki luas 661,5 kilometer persegi, maka total motor di Jakarta jika setengah penduduk tiap satu kilometer persegi memiliki motor adalah 3.175.200 motor. Banyakkan? Coba bayangkan polusi dari lebih dari tiga juta motor itu. Mengerikan? Ya iyalah. Iya, itu baru hitungan berdasar asumsi. Menurut data, mantan Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat pernah menyampaikan bahwa berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta tahun 2015 jumlah kendaraan roda 2 (motor) tercatat ada sebanyak 13,9 juta. Lebih banyak 10 juta-an dari asumsi tadi, dan itu baru tahun 2015. Apa kabarnya dengan jumlah motor di tahun 2019? Biasanya sih bertambah tahun bertambah jumlahnya.

Mungkin sebagian kita bertanya-tanya, “Kapan ya Jakarta tidak berpolusi? Kapan ya Jakarta tidak macet? Kapan ya Jakarta punya lingkungan yang bersahabat?” Bukan berarti tidak ada solusi yang bisa kita perjuangkan, lho. Konon ceritanya duku ketika warga Jakarta masih menerapkan pola hidup sehat seperti berjalan kaki, naik sepeda, dan naik kendaraan umum di era 70 atau 80-an, kita akan mendengar kisah hidup mereka di Kota Jakarta yang meski padat tapi berudara segar. Kemudian terbesit dalam kepala bahwa zaman telah berbeda. Betul, segalanya telah berubah. Tetapi bukankah tiap zaman selalu menyediakan solusi untuk semua masalah zamannya? Kita tetap bisa optimis. Ya, kita. Karena kuncinya ada pada kita, baik penduduk tetap Jakarta maupun pelancong seperti saya.

Sumber foto mojok dot co
Keoptimisan kita bisa ditindaklanjuti lewat aksi nyata, yaitu dengan naik kendaraan umum. Yakin deh dengan naik kendaraan umum bisa mengurangi polutan dan kemacetan. Seperti yang kita ketahui, pembangunan transportasi umum terus dilakukan dan dibuat senyaman mungkin. Misalnya nih busway. Kalaupun ada pelayanan yang kurang memuaskan, ya maklumlah namanya juga lagi berproses. Memangnya Lionel Messi pas lahir langsung jadi Top Scorer di Liga Spanyol? Kan tidak, Fergusi the Jelly.… Pemerintah lewat Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek juga telah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang membantu mempercepat perubahan Jakarta ke arah lebih baik. Tinggal kitanya, mau enggak ikut berpartisipasi? Kita pastinya tidak mau, kan, mewariskan sesak dan polusi Jakarta pada generasi penerus. Saya percaya kita tidak setega itu. Cukup Rangga saja yang jahat ke Cinta, atau Cinta yang jahat ke mantan tunangannya, eh. Mungkin awalnya terasa canggung ya naik bus, tapi lama-lama akan terbiasa dan menemukan hal-hal berharga dalam perjalanan. Yuk, naik kendaraan umum saja. Sampai jumpa di busway atau kereta.

SIMILAR POSTS

Preman Pensiun: Lika-Liku Masa Pensiun



Perjuangan untuk menonton film ini lumayan sulit. Dua hari berturut-turut kehabisan tiket! Dan itu bukan hanya terjadi pada saya, beberapa penonton yang ikut mengantre juga mesti menunda keinginan mereka untuk menyaksikan pertunjukan Kang Mus dan kawan-kawan. Antusiasme penonton memang luar biasa! Soalnya banyak yang datang bersama rombongan teman atau keluarga. Seperti membuktikan bahwa kisah-kisah keseharian dan jalanan selalu layak untuk diangkat. Premis yang ternyata menjanjikan. Rasanya lega ketika akhirnya duduk di dalam studio, melihat laga para preman yang telah pensiun.

Preman Pensiun: Lika-Liku Masa Pensiun

Film Preman Pensiun merupakan kelanjutan dari sinetron tiga season yang ditayangkan mulai tahun 2015 lalu. Sempat agak was-was apakah saya bisa mengikuti ceritanya karena belum pernah menonton serialnya sebelumnya. Ternyata kekhawatiran saya berlebihan. Kisah di film ini utuh dan dapat dimengerti oleh penonton yang awam seperti saya.



Seperti judulnya, film yang skenarionya ditulis dan disutradarai Aris Nugraha ini menceritakan tentang para preman yang memilih pensiun. Cerita digulirkan dari ikrar kepensiunan mereka sebagai preman dengan diwakili pernyataan dari Kang Mus (Epi Kusnandar) untuk mewujudkan tuah pimpinan mereka sebelumnya yaitu Kang Bahar (Alm. Didi Petet) agar anak-anak buahnya ‘memiliki bisnis yang bagus dan juga bisnis yang baik’. Sebuah pembukaan yang tidak basa-basi, apalagi berlanjut ke konflik, yaitu adegan pengeroyokan Dayat oleh tiga preman di pasar baru. Terus terang, pada scene ini suguhan laganya terlihat agak kurang meyakinkan. Tapi tenang… selanjutnya digarap dengan baik. Adegan perkelahian Dayat itu menghadirkan tanda tanya besar. Ada apa? Kenapa?
Namun kemudian, cerita sempat mengalir saja, tidak kokoh pada fondasi. Seperti keluar dari jalur konflik utama dengan menghadirkan sub-sub konflik yang irisannya tampak tidak tebal. Seperti masalah protektifnya Kang Mus pada anak gadisnya--Safira (Maharani Farsya)--yang sedang dekat dengan seorang mahasiswa. Lalu bisnis kicimpring yang sepi pembeli, sampai urusan rumah tangga Dikdik (Andra Manihot) dengan istrinya. Secara garis besar memang semua adegan itu dapat menggambarkan dengan baik apa-apa saja yang dilakukan para preman dalam menjalani kehidupan baru mereka. Meski tampak acak, saya ikut hanyut dalam aliran kisahnya. Memang, bukan berarti konflik utama lepas begitu saja, kisah diikat oleh kehadiran Gobang (Dedi Moch. Jamasari) yang mengumpulkan para preman pensiun untuk satu tujuan pribadi. Kemisteriusan itulah yang kelak dipersiapkan sebagai twist atau gong cerita. Btw, Kang Gobang ini tokoh favorit saya. Kharismatik sekali.

Nonton bareng kembaran

Meski sarat komedi, film Preman Pensiun memberi makna dalam untuk penontonnya. Pada awalnya, penonton diajak banyak tertawa oleh tingkah para tokoh dan dialog mereka. Termasuk saya, tahu-tahu saya menemukan diri sedang tersenyum atau tertawa. Entah berapa kali ledakan tawa terdengar dalam studio, memperlihatkan betapa penonton menikmati suguhan film ini. Kekuatan karakter yang bangunannya kuat dan akting natural para pemainnya menjadi kunci. Kesimpulan saya, cerita memang berfondasi pada pengembangan karakter. Keputusan dan tindakan yang diambil jelas alasan dan motivasinya. Kisah lalu bergerak pada adegan-adegan serius yang menguras air mata. Setidaknya ada empat kali saya menangis.

Konsep dialognya menarik, menyambung dari satu adegan ke adegan. Konsisten hampir dari awal hingga akhir. Walaupun ada beberapa bagian yang agak maksa. Tapi selebihnya terasa mulus. Dialog jugalah yang memiliki peranan penting menyampaikan makna dalam tadi. Disampaikan pada saat yang tepat sehingga bukan menjadi parade kalimat quotable omong kosong. Terasa jleb! Betapa merasuknya kalimat “Setiap pertanyaan harus terjawab di kamu, dan setiap permasalahan harus selesai di kamu”. Kalimat itu bukan hanya cocok untuk kasus dalam film ini, tapi saya menangkap filosofis untuk setiap kita. Bahwa masing-masing kita sering kali memiliki pertanyaan yang sulit dijawab, dan permasalahan yang efeknya menyebar pada orang-orang sekeliling kita.



Saya paling terkesan pada musiknya. Berhasil membangun suasana, dan kental kesundaannya. Apalagi pada adegan perkelahian yang justru memilih latar lagu romansa. Tapi dapat mencekamnya! Ditambah lagi latar film yang mengambil gang-gang, pasar, perumahan warga biasa, dan terminal yang diwarnai dengan indah sehingga menambah kepuitisannya.

Saya menasbihkan sepertiga akhir film sebagai bagian terbaik. Gereget! Klimaks di ending. Saya puas dengan ending-nya, yang bagi saya tidak gantung. Tahu-tahu saya menemukan diri menangis sesenggukan di akhir film. Rasanya tidak rela ketika lampu dinyalakan petugas bioskop.

Bukan rahasia, bahwa keluar dari lubang hitam butuh keberanian besar. Selalu ada lika-liku dan cobaan yang memanggil untuk kembali ke jalan yang lama. Perlu keteguhan, kerja keras, dan dukungan banyak pihak untuk tetap berjalan di rel baru yang dipilih. Kang Mus dan semua anak buahnya menjadi cerminan, betapa kehidupan jalanan memiliki banyak sisi. Jalanan dengan segala dinamikanya menjadi tempat bertumbuh, menemukan keluarga, mencari jati diri dan memakna kehidupan.


Secara keseluruhan menonton ini tidak membuat saya berpikir sedang menonton sinetron. Layak ditonton dan diapresiasi.

3,5 dari 5 bintang.

SIMILAR POSTS

Ini Dia Salah Satu Kunci Melanggengkan Hubungan “Long Distance Friendship”


Pada bulan-bulan akhir tahun 2004, saya bergabung dengan organisasi mahasiswa teater di UPI. Padahal waktu itu saya bahkan belum kuliah di sana, dan masih tercatat sebagai mahasiswi di universitas lain. Dengan canggung saya mencoba berbaur dengan anggota yang lain. Saya tak pernah menyangka akan menemukan 3 sahabat sejati di sana. Kegiatan teater telah merekatkan kami, membukakan tabir tabiat asli kami dan membuat kami saling menerima apa adanya. Terbayang kan 14 tahun perjalanan persahabat pasti dibumbui banyak drama. Betapa melegakan karena persahabatan kami tak lekang digilas waktu. Dan kini… jarak!

Kami semasa masih muda, beda, dan berbahaya.

Sejak beberapa tahun lalu, salah satu sahabat saya, Desita, menetap di Jepang bersama suaminya. Beberapa bulan lalu, sahabat lainnya, Ellis, ditugaskan mengajar bahasa Indonesia di Jerman. Tinggallah saya dan Ana yang meskipun tinggal di kota yang sama, tapi kesibukan masing-masing membuat kami jarang sekali bertemu. Ana satu-satunya dari kami yang bertahan di dunia panggung.

Heliana Sinaga (Ana) sedang berakting di atas panggung (Sumber foto: Seli Desmiarti)

Bisa dibilang kami berempat menjalani “long distance friendship”. Perbedaan jam antara Indonesia-Jepang-Jerman awalnya menyulitkan kami menentukan kapan bisa berkomunikasi. Memang sih ada grup WhatsApp sebagai media kami sharing berbagai topik dan curhat, yang walaupun dibalasnya seringkali delay dan tak tentu waktu, cukup membantu. Tapi ada saat-saat di mana kami membutuh respons langsung. Misalnya ketika meminta saran di situasi genting. Biasanya saya atau mereka memilih teleponan saja daripada chatting. Sebagai textrovert sejati alias lebih suka berkomunikasi lewat teks dan anti teleponan apalagi video call-an, saya sangat pemilih mengangkat telepon dan video call. Mengangkat telepon dari Abang ojek online saja saya suka mikir-mikir. Padahal si Abang hanya menanyakan posisi penjemputan. Kembaran saya Evi sampai selalu gemas tiap melihat saya hanya menatap nanar ponsel yang dibiarkan berbunyi.

Video call-an yang sangat jarang terjadi
Salah Satu Kunci Melanggengkan Hubungan “Long Distance Friendship”

Dalam setiap hubungan jarak jauh seringkali ada delay yang membentang. Semacam mau berbagi kebahagiaan, mencurahkan kesedihan, atau meminta saran atas masalah yang dihadapi mesti memilih waktu di mana kedua pihak punya waktu luang, atau minimal ya pada saat jam biologisnya sama-sama bangun. Waktu satu jam untuk berkomunikasi terasa sangat berarti. Jangan kan beda benua, beda kota saja soal komunikasi ini kadang bikin ribut. Tapi selalu ada hal positif kan di balik semuanya, salah satunya bisa menabung cerita. Jadi ketika mengobrol, banyak topik yang bisa disodorkan.

Ellis di Jerman
Jadi apa sih kunci melanggengkan persahabatan yang terpisah jauhnya jarak? Komunikasi dan saling pengertian. Perihal komunikasi ini dibutuhkan koneksi internet yang cepat dan stabil untuk teleponan atau video call-an. Pernah mengalami hilang mood cerita karena pas teleponan koneksinya hilang timbul? Paling sebal kan ketika mesti berkali-kali mengulang pertanyaan “Gimana... gimana?” atau harus mengulang-ulang cerita "Jadi tadi aku bilang..." begitu saja terus sampai semua superhero dibikin film universe-nya sendiri. Bikin capek. Masih mending kalau keduanya punya stok sabar seluas angkasa sehingga mau melanjutkan percakapan, kalau tidak, kelarlah obrolan. Itu sih masih mending, bagaimana kalau sedang berdebat? Percakapan berakhir menggantung menyisakan perasaan yang tidak enak. Selain itu komunikasi jarak jauh menghabiskan kuota yang tidak sedikit. Jangan sampai terjadi #dramakuota. Saya jadi keingetan iklan Smartfren yang T-Rex Jaman Now. Kejar-kejaran sama kuota berasa seperti dikejar T-Rex.

Desita dan para jagoannya

Untungnya saya pakai kartu Smartfren yang didukung koneksi internet cepat dan stabil. Fyi, Smartfren ini bukan CDMA, teknologinya 4G dan kartunya bisa dipakai di smartphone mana pun yang sudah 4G. Tidak khusus di-bundling dengan smartphone-nya kok. Mau pakai gawai Android atau iPhone tetap bisa pakai kartu Smartfren. Hal yang menyenangkannya lagi, paket Go Unlimited-nya murah meriah. Harganya mulai dari 65 ribuan. Paket #GoUnlimited ini berlaku full 24 jam untuk semua aplikasi. Serius deh unlimited-nya beneran selama 30 hari di semua aplikasi tanpa batas!


Oh iya, Smartfren sedang mengadakan kuis berhadiah super menarik. Ada iPhone X 64GB, Samsung Note 9 128GB, Redmi Note 5, Portable wi-fi Smartfren, dan Unlimited SP. Caranya? Share pengalaman berinternetmu yang tidak sesuai ekspektasi. Bisa dalam bentuk foto, video, komik, atau meme. Boleh pilih salah satu, atau mau semuanya juga bisa. Share di Instagram, Facebook, Twitter, atau Youtube pribadimu. Ceritamu tidak boleh mengandung unsur SARA dan pornografi ya. Kalau punya banyak pengalaman menyakitkan dengan seseorang, eh, dengan koneksi internet, boleh kok kalau mau share cerita berkali-kali. Lengkapi postinganmu dengan tagar #DramaKuota #GoUnlimited dan mention @smartfrenworld juga 2 orang temanmu, ya. Lalu ingat, akunmu jangan dikunci. Biarlah sekali-kali mantan stalking akunmu, paling-paling dia gagal move on, eh. Jangan lupa penuhi syarat utamanya, yaitu follow Instagram Smartfren @smartfrenworld dan subscribe official Youtube channel Smartfren di link ini: https://youtube.com/smartfrenworld
 


Kembali ke cerita saya. Kapan hari saya punya masalah yang mendesak untuk diceritakan. Waktu itu jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari. Sebagai manusia nokturnal, saya memang terbiasa tidur di atas jam 12 malam. Akhirnya saya menelepon Ellis di Jerman menggunakan salah satu aplikasi, di sana baru jam 7 malam, jadi paslah waktunya. Karena koneksi internetnya stabil, komunikasi kami lancar. Lega sekali rasanya bisa berbagi dengan sahabat. Kadang mereka pun menelepon saya untuk membincangkan pengalaman menjadi perantau di negeri orang. Saya memang beruntung memiliki sahabat pendengar yang baik, pengingat jika saya salah langkah, dan menguatkan ketika jatuh. Saya pun selalu merasa bahagia ketika saya adalah orang yang mereka pilih untuk berbagi segalanya. Kami percaya, selama selalu berusaha saling pengertian dan menjaga komunikasi, jarak tak pernah menjadi penghalang persahabatan.

Di jalanan yang makin lengang, kita masih saling bergenggaman tangan 
Meski dalam pertemuan singkat direntang waktu yang terlampau panjang 
Lalu kita kembali saling berbagi kisah yang telah usang karena tergilas jarak 
Semoga tak lekang pada hati yang ingin mengekalkan: yang tertusuk padamu, berdarah padaku*

*”yang tertusuk padamu, berdarah padaku” merupakan puisi Sutardji Calzoum Bachri

SIMILAR POSTS

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia


Memasuki lobi Hotel Harris and Convention Festival Citylink antrean wisudawan beserta keluarganya sudah mengular di depan lift. Tampak wajah-wajah semringah dan bangga. Pemandangan itu mengantarkan ingatan masa lampau, membuat saya terlempar ke waktu 8 tahun silam, ketika saya diwisuda. Satu pengalaman tak terlupakan karena sebelumnya saya sempat ingin menyerah bergelut di peperangan akademis. Hingga sekarang saya terkadang masih dihantui mimpi-mimpi dikejar momok bernama skripsi. Karenanya saya paham rasa ketika akhirnya bertemu saat-saat wisuda. Sayangnya dulu, saya yang memang terkenal sebagai mahasiswi tukang telat, datang terlambat juga saat wisuda. Sehingga kedua orangtua yang menemani saya tertahan di luar gedung, mesti menunggu pintu dibuka kembali pada detik-detik “Pelantikan Wisudawan”. Untungnya kedua orangtua saya tidak merespons secara dramatis kejadian tersebut.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia
Enung Heti istri dari salah satu wisudawan STTB

Tentunya ada banyak motivasi yang melatari seseorang memilih melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Seperti bertujuan mendapat pekerjaan lebih baik, meningkatkan kualitas diri maupun status sosial, menimba ilmu, belajar berorganisasi, sampai meluaskan relasi. Apa pun alasannya, semoga menjadi api yang terus membarakan semangat belajar hingga akhir. Seperti Robin Rawis, salah satu wisudawan dari jurusan Teknik Industri  pada Wisuda XIII Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB) ini. Menurut penuturan istrinya, Enung Heti, suaminya kuliah sambil kerja. Terasa berat pastinya, tetapi Robin tidak menyerah, apalagi mendapat suntikan semangat dari istri dan anaknya. Selama acara berlangsung, saya yang duduk di sebelah anaknya berkali-kali spontan menoleh karena celotehan bocah tersebut yang antusias mencari ayahnya. Mata bocah itu berkilat bangga dan hangat. Sungguh, hal itu mengingatkan saya pada Rasi—anak saya. Dialah yang menjadi alasan saya menyelesaikan kuliah. Saya ingin dia memiliki kebanggaan terhadap saya.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia
Mengantre registrasi

Latar belakang mahasiswa STTB yang beragam, seperti Robin yang bekerja sambil kuliah, membuat saya merasa tak tepat lagi mengucapkan, “Welcome to the jungle”, karena mereka telah terjun jauh sebelumnya ke dunia realitas. Di zaman milenial ini memang tuntutan dunia kerja menjadi semakin keras. Kemampuan yang mesti dimiliki berlipat-lipat. Dalam artikel yang saya baca di youthmanual, LinkedIn—situs bursa tenaga kerja—pada tahun 2017 merilis, setidaknya ada 10 kemampuan yang harus dimiliki untuk terjun di dunia kerja. Beberapa di antaranya adalah kemampuan mengoperasikan software dasar komputer seperti Microsoft office, PowerPoint, dan Excel. Kemudian kemampuan public speaking, kepemimpinan, riset, manajemen, hingga bermedia sosial. Tentunya yang terakhir itu tampak sudah mandarah daging dalam kehidupan perkotaan. Siapa yang tak memiliki setidaknya satu akun di media sosial? Namun, kemampuan bermedia sosial merupakan hal lain, karena meliputi penggunaannya secara positif, seperti menyebarkan gagasan baik.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia
Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S. Kom, MT

Sekilas Mengenai STTB

Sekolah Tinggi Teknologi Bandung saat ini memiliki 3 program studi, yaitu Teknik Industri, Teknik Informatika, dan Desain Komunikasi Visual. Berdiri pada tanggal 5 Oktober 1991 dengan Nomor SK Dirjen DIKTI No: 197/DIKTI/Kep/1992. Sekolah tinggi yang memiliki tagline “Your Partner to Global Competition” ini didirikan dengan tujuan menghasilkan sarjana dan tenaga ahli yang kompeten, sehingga mampu menghadapi tantangan global. Diharapkan juga agar para lulusannya mempunyai jiwa kewirausahaan hingga dapat menciptakan lapangan kerja sendiri. Lebih dari 400 lulusan telah bekerja di berbagai perusahaan, industri, maupun berkontribusi sebagai wirausahawan. Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S. Kom, MT, dalam sambutannya pada wisuda ke XIII mengatakan bahwa tahun 2022 STTB go university.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia
Pelantikan Wisudawan dan Wisudawati

Wisuda XIII Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STTB)

Acara Wisuda XIII STTB kali ini berlangsung pada tanggal 8 Desember 2018 di Hotel Harris and Convention Festival Citylink. Sebanyak 183 sarjana dilantik pada hari itu, yang terdiri dari 106 Sarjana Teknik Industri, dan 77 Sarjana Teknik Informatika. Mahasiswa STTB sendiri berasal dari berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri, seperti Pulau Jawa, Sumatra, Bali, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Malaysia, Timor Lesti, dan Qatar.
Acara yang berlangsung sejak pukul 8.30 WIB ini berjalan lancar, meriah, dan khidmat. Salah satu bagian yang berkesan bagi saya adalah ketika para wisudawan dan wisudawati mengucapkan terima kasih pada orangtua maupun keluarga atas dukungan mereka selama menempuh pendidikan. Seperti kata orang bijak, “Kesuksesan anak merupakan doa orangtua yang diijabah.” Tari-tarian dan nyanyian turut menyemarakan gelaran ini, menambah warna pada acara. Ketika dibacakan skripsi-skripsi terbaik, riuh terdengar suara-suara semangat para sarjana. Tina Sri Handayani S.Kom, didaulat sebagai pembicara mewakili para wisudawan. Tina merupakan atlet difabel, salah satu prestasinya adalah meraih medali emas pada cabang olahraga lari 200 M pada Pekan Paralimpik Daerah (PEPARDA) V 2018 di Bogor. Hal ini juga menegaskan bahwa STTB merupakan kampus ramah disabilitas.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia
Tina Sri Handayani S.Kom (Foto milik Rahmi Aulia)

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia

Suatu ketika saat saya masih menjadi mahasiswa, dalam kegalauan akademis saya sempat berpikir, “Apa sih manfaat kuliah itu kalau pada akhirnya banyak sarjana bekerja tidak sesuai bidang atau jurusannya?” Belakangan saya mendapat jawabannya, kuliah membentuk pola pikir, baik itu sistematis, logis, maupun solutif. Kerangka berpikir itulah yang menjadi dasar atau fondasi untuk berkarya dan terjun berkontribusi dalam masyarakat maupun berbangsa. Meski tidak bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusan, tapi ilmu yang dimiliki tetap bisa dimanfaatkan di mana pun. Kata bijak, “Tak berat menanggung ilmu”.

Menjadi Sarjana yang Optimis Membangun Indonesia

Sebagai sekolah tinggi, tentunya STTB ingin para lulusannya menjadi sarjana-sarjana optimis membangun Indonesia. Apa pun pilihannya, mau jadi pegawai atau wirausahawan, bukan dipandang sebagai pengangguran terdidik. STTB bahkan bekerja dengan beberapa rekanan perusahaan untuk penyerapan lulusan mereka. Untuk itu pula kurikulum selalu dibenahi, agar para sarjana mendapat pendidikan dan pembelajaran tepat mengembangkan potensi dan kemampuan mereka sehingga siap menghadapi sekeras apa pun tantangan global, kemudian mengharumkan bangsa lewat karya.

Selamat pada STTB beserta seluruh jajaran staf pendidik. Selamat pada para wisudawan dan wisudawati. Jalan masih membentang panjang, mari bahu membahu bekerja sama menjadi generasi optimis.

SIMILAR POSTS

3 Hal Ini Akan Membuatmu Tak Pernah Lelah Mencintai Indonesia


Membincangkan mengenai Indonesia membuat dada saya berdesir. Seperti saat mengingat seseorang yang dicintai. Satu nama itu menimbulkan semangat, kenyamanan, kehangatan, dan passion. Indonesia yang begitu kaya akan segalanya, termasuk dinamika karena keberagamannya mungkin terkadang membuat kita lelah, berbalik pesimis, atau memilih apatis. Pikiran dan hati dibuat penat melihat pertikaian di media sosial yang terjadi atas nama "demi kebaikan dan kemajuan" Indonesia. Jika hal itu terjadi, selalu ingatlah ada banyak hal yang membuat kita tak akan pernah lelah mencintai Indonesia.

3 Hal Ini Akan Membuatmu Tak Pernah Lelah Mencintai Indonesia
Di antara jutaan alasan, ada 3 hal ini yang mungkin akan menguatkan kita untuk tak mudah patah.

1. Sejarahnya
Untuk menjadi satu nama "Indonesia", sejarah mencatat perjalanan yang berliku. Ada perjuangan dan pengorbanan bangsa kita tanpa mempersoalkan apakah nama mereka tercatat sebagai pahlawan ataukah tersisa nisan tanpa nama. Keringat, luka, dan pemikiran mereka mari kita resapi menjadi daya juang untuk tak lelah mencintai Indonesia dan menorehkan sejarah baru yang cerlang di mana kitalah yang menjadi pejuangnya.

2. Tanahnya
Alasan kedua adalah tanah, air, dan segala kekayaan alam Indonesia. Tanah bukan sekadar tempat berpijak atau merebahkan raga. Lebih dari itu tanah adalah alam dan budaya. Tanah Indonesia memberi kita ruang fisik dan pikir. Sumber alam, inspirasi, dan menegakkan aspirasi. Amunisi tiada tara untuk kecintaan.

3. Manusianya
Di Indonesia, ada orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Di mana setiap langkahmu teriring doa-doa mereka. Tanyakanlah pada para perantau, betapa mereka merindu pulang. Salah satunya karena di sinilah tempat orang-orang yang mereka cintai. Warga Indonesia pun terkenal ramah di mata mancanegara. Mereka pun terpikat ketulusan manusianya.

Ketika berpartisipasi menjadi tim media sosial di Pangkalpinang dalam event Asian Para Games 2018

Memberi Bentuk Kecintaan Lewat Kreativitas
Ketika kita mencintai, tentunya mesti ditunjukkan dalam berbagai bentuk. Baik itu dalam bentuk kata-kata, perbuatan, kerja nyata, kreativitas, dan lainnya. Ingat jargon "Kerja kita, prestasi bangsa" kan? Di zaman milenial ini, kita mesti menjadi generasi optimis untuk menunjukkan kecintaan terhadap Indonesia. Seperti yang disampaikan Pak Andoko Darta, Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informatika RI, bahwa Indonesia berada dalam "middle income trap" atau negara dengan penghasilan menengah. Untuk keluar dari kubangan jebakan itu dan menjadi negara maju, pemerintah memfokuskan pembangunan pada ekonomi kreatif dan pariwisata. Hal itu karena Indonesia tidak bisa lagi bergantung pada kekayaan alamnya, misalnya hutan yang semakin gundul. Maka di era ini, ekonomi kreatif dan pariwisatalah yang bisa menjadi fondasi Indonesia untuk bergerak maju. Karena itulah pembangunan infrastruktur Indonesia sedang digalakkan. Ekonomi kreatifnya dibantu oleh perkembangan teknologi.

Salah satu spot wajah baru Batam untuk memikat pariwisatawan.

Namun, apakah bentuk cinta kita terbatas pada kedua hal tersebut? Tidak, tentu saja tidak. Selalu ada banyak jalan dan alternatif. Seperti:
Cendekiawan, misalnya pendidik dan ilmuwan.
Eksplorer, seperti pencinta alam dan traveller.

Para pahlawan difabel yang menjadi keterbatasan sebagai hal yang menembus batas

Pahlawan, contohnya atlet dan tim SAR. Seperti para pahlawan difabel yang menjadikan keterbatasan sebagai hal yang menembus batas. Atau tim SAR yang yang berjibaku membantu para penyintas bencana di Lombok atau Palu.

Kreator, seperti penulis, blogger, start up, pengusaha, desainer, dan lainnya.
Peduli, seperti volunteer.
Atau menjadi pekerja kantoran.


Saya sendiri memilih jalan sebagai penulis. Berjuang dengan kata-kata. Menulis adalah alat saya untuk mengedukasi, berekspresi, menunjukkan kecintaan pada bangsa, dan berkarya.

Apa pun jalan yang kita pilih, selalu ada tempat untuk menebar bermanfaat, membagikan inspirasi, dan mengeluarkan potensi terbaik juga kreativitas.
Yang mesti digarisbawahi adalah kitalah sebagai sumber daya manusia yang paling memegang peranan penting.

Acara 4 Tahun Indonesia Kreatif

Seperti kata Pak Jokowi,
"Membangun manusia Indonesia adalah investasi kita untuk menghadapi masa depan, dan melapangkan jalan menuju Indonesia maju."

Kecintaan dan pola pikir kitalah yang akan mengantarkan Indonesia cemerlang. Pola pikir optimis, kreatif, dan solutif. Tiap melihat permasalahan bukan mengutuk keadaan dan pesimis, tapi memikirkan solusinya, kemudian mewujudkannya.

Jika Sukardi Rinakit berkata,
Jangan pernah lelah mencintai Indonesia

Sesungguhnya, apa yang membuat kita bisa lelah dan memutuskan menyerah mencintai Indonesia? Tak ada, tak ada alasan untuk lelah dan menyerah mencintai Indonesia, karena kita tak pernah bertepuk sebelah tangan.