Rabu, 24 Juni 2015

Filled Under:

[Review] Novel Misteri Rumah Kosong

Share


Kamu hobi baca novel seram dan nonton film horror? Belum bisa nyebut diri pecinta horor deh kalau belum baca novel ini. Taklukin dulu mencekamnya novel “Misteri Rumah Kosong” ini.

***
Judul: Misteri Rumah Kosong
Penulis: Glenn Alexei
Penerbit: Media Pressindo
Tebal: 220 Halaman
Editor: Fatimah Azzahrah
ISBN: 979-911-540-X

Blurb:

    “Pergi kau dari rumah ini!”

Apakah makhluk itu yang berbicara padanya?
Di bawah cahaya bulan yang menerobos masuk ke jendela ruangan, Rani melihat sosok itu mendekat ke arahnya. Makin lama makin dekat, sedangkan Rani tak mampu bergerak. Lidahnya terasa kelu sampai ia tak mampu berteriak minta tolong.

    “Pergi kau atau kau akan menanggung akibatnya!”

Kalau ada yang menawarkan rumah supermewah, lengkap seperabot-perabotnya, dengan harga teramat murah apakah akan kamu ambil?
Kalau pertanyaan itu ditujukkan kepada Adi, jawabannya jelas AMBIL! Prioritasnya saat ini memang adalah membeli rumah demi meluluskan satu-satunya permintaan sang istri: berpisah dari mertua dan hidup mandiri. Ia tak ambil pusing dengan pikiran ‘pasti-ada-apa-apa’ seperti Rani, istrinya.
Adi boleh tidak percaya dengan keberadaan makhluk tak kasat mata. Akan tetapi, ia harus benar-benar meralat anggapannya saat melihat istrinya koma dan satu demi satu orang yang membantunya mengusut keanehan rumah barunya tewas secara misterius.
Ini pasti ada apa-apa….

***

Rani dan Adi pengantin baru yang bahagia. Sayangnya keharmonisan mereka terganggu karena Rani sering bertengkar dengan mertuanya, sehingga dia mendesak Adi untuk cepat-cepat membeli rumah. Setelah melihat iklan rumah mewah yang dijual murah, tanpa pikir panjang, Adi pun membelinya.
Ternyata setelah pindah ke sana, terjadi banyak keanehan. Dimulai dari munculnya bayangan-bayangan seram, berhentinya pembantu rumah tangga mereka karena ketakutan, dan puncaknya Rani sakit sampai koma. Adi yang tidak mempercayai hantu mulai berpikir ulang. Dia pun meminta bantuan orang-orang. Tetapi satu persatu mereka mati mengenaskan.

Harus ke mana lagi Adi meminta tolong? Sebenarnya ada apa di rumah itu?

REVIEW

Dari judulnya saja, pembaca diajak untuk masuk sekaligus ikut menabak-nebak misteri apa yang terjadi di rumah kosong yang dibeli Adi. Glenn sudah menyodorkan konflik-konflik sejak dari bab-bab awal. Sehingga selama membaca novel ini saya terus-menerus diliputi ketegangan. Cara Glenn mendeskripsikan suasananya membuat saya turut merasakan aura yang menyeramkan. Selain karena saya penakut, Glenn sebagai penulisjuga pintar menciptakan adegan seram. Meskipun formula adegannya sudah sering dipakai di cerita serupa, namun dipadu dengan kejutan-kejutan ala Glenn.

Glenn mengakhiri tiap bab dengan pas, sehingga pembaca dibuat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Tebaran misterinya juga cukup halus. Dan seperti novel horor lokal lainnya, di sini pun pembaca disuguhi mistis ala Indonesia seperti dukun dan ritualnya. Saya kagum karena nampaknya Glenn cukup menguasai hal ini ^_^ Klimaks novel ini juga memuaskan. Hanya saja motivasi terjadinya tragedi kurang nge-boom. Alasan tokoh jahat masih harus diperdalam lagi.
 
Setting tempatnya digambarkan dengan jelas sehingga terbayang. Bahkan membaca novel ini saya merasa seperti sedang menonton film. Selipan musiknya juga oke, karena memang Glenn memang paham soal ini. Editingnya yang rapi juga membuat saya makin betah membacanya.


Karakter tokoh-tokohnya cukup kuat dan jelas. Chemistry antara Rani dan Adi terasa pas, cukup kuat. Tetapi antara Adi dan mantan pacarnya—yang padahal masih kadang diingatnya—masih kurang kuat. Pada awalnya saya agak sulit masuk ke perbincangan antar tokohnya karena penulis memakai pola dialog yang kaku, terasa kurang hidup dan membumi, tapi lama kelamaan saya bisa menikmatinya. Dan yang saya suka, romance-nya kerasa.

Meskipun novel horor, tapi pesan moralnya dapet banget. Ending ceritanya yang ala-ala film horor thriller luar, bikin gemes--in a good way. Secara keseluruhan novel ini recomended untuk pecinta horor.

Aku akan selalu mencintaimu dalam suka maupun duka, kaya ataupun miskin, sehat ataupun sakit. Tak ada yang bisa memisahkan kita kecuali maut.

Ia tak habis pikir, mengapa orang-orang lebih banyak mengingat kebiasaan buruk seseorang daripada prestasi atau kelakuan baik yang dilakukan orang tersebut. 

0 komentar:

Posting Komentar