Minggu, 21 Februari 2016

Filled Under: ,

I am Hope: Film Pergerakan Yang Lahir Dari Kepedulian

Share


Bukan hal baru bahwa film dipakai sebagai media pergerakan. Film bisa mengubah pemikiran dan menghasilkan perubahan. Sebutlah film JFK dan Super Size Me yang berhasil mencapai misi itu. Tidak muluk kalau saya sebut film I am Hope memiliki visi sebesar itu. Film yang didedikasikan untuk para kanker survivor dan keluarganya ini ingin membuat penontonnya "melek" bahaya kanker dan menyentuh kepedulian mereka dengan melakukan aksi nyata. Dilihat dari sederet kampanye yang dilakukan oleh tiga wanita penggagasnya yaitu Janna Soekasah, Amanda Soekasah, dan Wulan Guritno, visi misi kepedulian terhadap penyakit kanker itu jelas bukan tempelan untuk alat jualan film I am Hope. Justru promosi maksimal yang mereka lakukan adalah demi tercapainya tujuan kelahirannya film I am Hope ini.


Sumber foto gelangharapan (dot) org


Kampanye Harapan

Kampanye "harapan" yang menjadi nyawa film I am Hope bermula dari kampanye "Gelang Harapan" yang dibuat dari sisa kain desainer Ghea Panggabean. Lewat gelang kain pelangi yang diartikan sebagai simbol harapan itu, gerakan "Bracelet of Hope" mencoba mengetuk kepedulian masyarakat luas untuk bergabung menjadi pejuang harapan. Dengan membeli gelang tersebut, pejuang harapan telah turut menyumbang untuk pejuang kanker serta keluarganya.

Tidak cukup sampai di sana, diperluaslah aksi nyata ini dengan mengadakan Journey of Hope atau "Perjalanan Harapan" dimana Founder dan Warriors of Hope terjun langsung memberikan sumbangannya pada para pejuang kanker dan keluarga di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, dan Trenggalek. Selain itu untuk memperluas jangkauan penyampaian "pesan" kepedulian, mereka melengkapinya dalam bentuk karya seni seperti konser, film, bahkan novel. Harapannya pesan itu diterima dengan baik karena disampaikan lewat media seni dan hiburan sehingga tidak menggurui dan dapat menyentuh empati. Apalagi pemilihan nama kampanyenya pun positif dan mengundang simpati, yaitu harapan. Siapa manusia yang tidak pernah diterjang badai? Tanpa menimbang-nimbang kesedihan, siapa pun pernah terluka dalam, dimana setiap manusia selalu membutuhkan harapan.

Tentang Film Iam Hope

Kali pertama saya menonton film I am Hope adalah di Jakarta dalam acara "Live Score Movie Concert" yang digelar bertepatan pada Hari Kanker Sedunia. Sebelum layar mempertunjukan film yang diiringi musik secara live, tiga produser Alkimia Production, Wulan, Janna, dan Amanda, memberikan sepatah dua patah kata mengenai kampanye mereka. Wulan bahkan berbicara dengan suara bergetar karena haru. Terlihat ketiganya beserta sederet pendukung film I am Hope bekerja dengan tulus untuk mempersembahkan film pada penonton. Lalu untuk kedua kalinya saya menonton film ini bersama teman-teman blogger di hari Meet and Greet-nya di Bandung.

Live Score Movie Concert I am Hope


Sinopsis I am Hope

Film I am Hope yang skenarionya ditulis kolaborasi antara Adilla Dimitri dan Renaldo Samsara ini bercerita tentang Mia (Tatjana Saphira) yang divonis kanker, penyakit sama telah merenggut Madina (Feby Febiola), ibunya yang berprofesi sebagai penulis dan sutradara teater. Hal itu membuat Raja (Tio Pakusadewo), ayah Mia yang seorang komposer trauma, sehingga dia protektif dan meminta Mia keluar dari garapan teater yang melibatkan anaknya. Hanya berkutat dengan pengobatan kanker ternyata membuat Mia stres. Atas dorongan sahabatnya, Maia (Allesandra Usman), Mia tak mau mengubur impiannya menjadi penulis dan sutradara teater. Dia ingin mengikuti jejak ibunya. Mia pun kemudian menulis naskah drama berjudul "Aku Dan Harapanku" yang dia serahkan pada Rama Sastra Production milik Rama (Aryo Wahab). Nasib kemudian mempertemukannya dengan David (Fachry Albar) di suatu pentas teater. Selepas itu mereka menjadi dekat.

Apakah Mia dapat sembuh dari penyakit kanker? Apakah impiannya tercapai? Apakah ayah dan kekasihnya mendukung jalan impiannya?

Review I am Hope
 
Selain misi yang diembannya, hal lain yang menarik buat saya dari film I am Hope adalah pemilihan profesinya jarang diangkat, yaitu penulis dan sutradara teater. Sebagai orang yang pernah bergelut di dunia itu, saya merasa related dengan impian Mia. Rasanya seperti diajak bernostalgia ke masa-masa latihan teater. Apalagi disuguhkan dengan properti panggung yang bagus dalam pertunjukannya. Pemilihan tempat kencan Mia dan David pun unik, yaitu menonton pantomim. Penonton film yang belum familier dengan dunia teater seperti diajak berkenalan dan turut mencintai seperti Mia. Sayangnya, dialog naskah teater yang ditulis Mia kurang terasa rohnya dan memakai pilihan bahasa yang terlalu ngepop. Kemudian dunia teater dalam I am Hope digambarkan glamour dengan red carpet-nya. Namun, hal itu saya anggap sebagai doa, bahwa suatu hari teater Indonesia akan semegah itu.

Kelebihan I am Hope lain adalah sinematografinya yang indah. Tidak diragukan lagi memang kemampuan Yudi Datau dalam hal ini. Roh harapan disampaikan dengan baik lewat soundtrack-nya yang dibawakan RAN penuh penghayatan dalam lagu "Nyanyian Harapan". Liriknya menyentuh dan membawa energi positif harapan. Silakan dengarkan di sini:





Di sisi lain, ada hal-hal yang masih kurang tereksplor dengan baik dalam film ini. Seperti akting para pemainnya. Saya melihat Tatjana Saphira sudah berusaha total meskipun hasilnya belum maksimal. Begitu pun dengan akting Fachry, Tio, Ray, dan pendukung lainnya, belum mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Namun begitu, chemistry antara tokohnya terjalin cukup baik. Dari semua akting di film ini, akting Ine Febriyanti yang berhasil paling mencuri perhatian saya. Saya yakin, di film selanjutnya Dimitri sebagai sutradara memiliki potensi untuk dapat mengarahkan kemampuan maksimal para pemainnya.

Sudut pandang tema kanker dalam skenario I am Hope masih mengambil sudut pandang film bertema sama sebelum-sebelumnya. Sedikit sekali kebaruan yang ditawarkan. Namun bukan berarti tidak ada. Sosok Maia merupakan buktinya. Mungkin ada penonton yang bingung kenapa Maia bisa begini, bisa begitu. Pandangan saya, anomali Maia memang dirancang untuk mengecoh penonton. Semoga saja begitu, bukan skenario yang logikanya kecolongan. Namun, clue yang disebarkan teramat jelas sehingga saya bisa dengan mudah menebak siapa sebenarnya Maia sejak dari awal. Bisa jadi tebaran clue ini memang dimaksudkan agar penonton dapat memahami siapa Maia dan posisinya dalam film ini, karena memang ini bukan film suspense atau thriller.

Meski pengambilan sudut pandangnya biasa, tapi film I am Hope memiliki konsep "cara" penceritaan beda, yaitu "cerita dalam cerita". Dimana naskah yang dipentaskan Mia mengisahkan kehidupannya sendiri, sehingga penonton seperti berada dalam cerita circle. Menarik!

Ada hal yang mengganggu saya, yaitu kenapa David tidak hadir di sisi Mia saat kekasihnya itu operasi. Hanya ada ayah Mia yang menemani. Saya kira, seharusnya David ingin memberinya kekuatan di saat sangat penting seperti itu. Atau minimal diperlihatkan kecemasan David di mana pun dia berada ketika itu. Memang untuk ukuran film berdurasi panjang, I am Hope masih agak keteteran mendetailkan beberapa hal penting seperti itu. Sementara di bagian lain agak bertele-tele, padahal bisa lebih dipadatkan lagi.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, film ini bisa menginspirasi penonton untuk terus berjuang meraih impian dengan teguh berjalan di rel mimpi itu dalam keadaan apa pun. Bahkan penyakit sekali pun tak bisa menghentikan. Karena harapan selalu menyertai mereka yang berjuang.

Saya berharap di masa depan Alkimia akan terus memproduksi film dengan visi misi dan tema serupa--dengan pemilihan sudut pandang beragam, hingga lebih berwarna--sebagai konsistensi pergerakan kampanye harapan. Saya yakin, masukan-masukan yang datang mengenai film ini tidak akan menyurutkan para pejuang harapan, tetapi menjadi pelecut untuk menghasilkan karya yang lebih baik, karena hatilah yang menggerakkannya.





Kalau kamu tergerak untuk bergabung menjadi pejuang harapan, dengan menonton film ini di bioskop, kamu sudah berpartisipasi nyata, karena sebagian profit film ini disumbangkan untuk para kanker survivor dan keluarganya.


Nonton bareng I am Hope 


12 komentar:

  1. Siip harapan memang selalu menyertai mereka yang berjuang, berhentilah untuk berputus asa kamu tak sendiri kawan :)

    Apapun yang dikerjakan oleh hati memang akan lebih berkesan di hati Ya Teh :)

    BalasHapus
  2. teteh seru bgt nobarnya. Film ky gini harus banyak beredar supaya bisa memberi inspirasi buat masyarakat luas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Tetty, semoga makin banyak film yang lahir dari gerakan kepedulian :)

      Hapus
  3. Nice, setuju dgn Tatjana masih belum maksimal tp cukup lah

    BalasHapus
  4. Salut sama gerakan gelang harapan ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi merasa belum berbuat apa-apa, ya, Evi

      Hapus
  5. Aku belum nonton film ini ... tapi semangat dan tujuan dari film ini keren banget, mulia.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Cha. Mulia. Take action pula :)

      Hapus
  6. betul mba.. aku juga ngerasa aktingnya agak2 kaku gitu, trutama fachry albar dan si pemain utamanya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Film mereka selanjutnya pasti mereka berusaha meningkatkan lagi ya, Mbak ^_^

      Hapus