Kamis, 27 Oktober 2016

Filled Under: , ,

Dear Love: Catatan Pendek Apresiasi Film

Share
Dear Love: Catatan Pendek Apresiasi Film


Ini catatan dan kesan saya setelah menyaksikan Dear Love. Catatan ini saya buat sebagai apresiasi untuk film tersebut.

Dear Love 
: catatan pendek setelah menonton filmnya

Terus terang waktu nonton trailer-nya saya gak ngeuh kalau ide guliran awal ceritanya berasal dari surat-surat cinta rahasia yang dikirimkan tanpa permisi.
Jadi ceritanya tentang Rayya (Mentari De Marrele) yang suka menuliskan perasaan cintanya buat cowok-cowok yang ditaksirnya dalam surat sebagai curahan hati. Surat-surat yang tak niat dia kirimkan itu disimpan dalam kotak. 
Celakanya, surat-surat itu kemudian sampai ke tangan para cowok itu. Sehingga mereka satu per satu mendatangi Rayya.
Sampai sini, cerita mengingatkan saya pada novel "To All The Boys I've Loved Before" karya Jenny Han. Karena ide awal ceritanya mirip. Yaitu cewek yang menulis surat cinta buat cowok-cowok yang disukainya. 
Menyimpan surat-surat itu sendiri, kemudian suatu hari surat sampai ke tangan mereka oleh seseorang misterius, sehingga para cowok itu mendatangi si cewek untuk menanyakan kebenaran isi surat tersebut.
Sampai situ aja sih kemiripian yang saya tangkap. 
Bukan berarti saya menganggap film Dear Love ceritanya terinspirasi dari novel Jenny Han. Karena sangat mungkin penulis skenario dan sutradaranya juga belum pernah baca novel itu. Saya cuman bilang ceritanya 'mengingatkan' saya ke novel itu. 


Cerita kemudian berkembang ke tema utamanya: sisterzone!
Dua orang malang yang terlibat sisterzone ini adalah Rayya dan Nico (Dimas Aditya). Karena bersahabat dari kecil, hubungan mereka sudah seperti kakak adik. Padahal diam-diam ada perasaan lain yang tumbuh. Ada banyak alasan kenapa dua sahabat yang saling suka gak bisa bersama. Alasan yang dipilih film Dear Love berpotensi meraih simpati penonton. Karena lebih dalam dari 'enggak mau merusak persahabatan'.
Tapi jangan khawatir keberatan, cerita ringan kok, sesuai segmennya yaitu remaja.

Pada bagian awal Dear Love cukup bergulir dinamis. Kedatangan satu per satu cowok yang pernah ditaksir Rayya menarik diikuti. Apalagi saat mantan terindahnya, Addin (Billy Davidson), hadir lagi dalam hidupnya. Namun kemudian tempo cerita makin melambat, sepertinya untuk memberi efek dramatis.
Kadang memang, ketika menonton atau membaca karya yang sedih. Pembaca dan penonton suka menyesap rasanya lebih lama. Sepertinya untuk mengakomodir kebutuhan baper penonton itulah kemudian temponya melambat. Ada bagian yang lambatnya pas, ada yang serasa dipanjang-panjangkan.
Dari segi cerita, drama memang seringkali gulirannya mudah ditebak. Yang membuat menarik dalam drama percintaan adalah 'proses' bagaimana tokoh akhirnya memilih si A atau si B. Maka saya tak mengharap ada twist yang sulit ditebak. Dear Love mencoba menghadirkan twist-twist, usaha yang patut diapresiasi, meskipun pada akhirnya tetap tak membuat terkejut.
Beberapa dialog cukup quotable dan jleb. Ada bagian dialog yang lincah dan lucu juga. Kayak di bagian-bagian obrolan Rayya dan Nico. Beberapa kali celetukan mereka berhasil memancing tawa penonton.
Dialog yang paling ngena itu pas atasan Rayya yang diperanin Tije ngomelin Rayya.

Dear Love: Catatan Pendek Apresiasi Film
Billy Davidson menandatangi tiket Dear Love di pemutaran perdana filmnya.

Dari segi akting, Dimas Aditya dan Billy Davidson bermain seimbang. Sudah mencoba all out tapi masih kurang greget.
Sedangkan Mentari sepertinya kesulitan mengekspresikan kesedihan Rayya. Di bagian paling sedih, saya kurang menangkap rasa Rayya. Sedih sebenernya gak mesti diungkapin dengan menangis. Muka datar kosong seperti kehilangan jiwa juga bentuk kesedihan hebat.
Tokoh Nadine yang diperankan Rebecca Tamara adalah tokoh antagonis super tipikal. Nyebelin dan gak ada bagus-bagusnya. Lawan yang jelas hitam-putihnya kayak gitu cukup mengurangi greget cerita.
Yang ambigu jauh lebih bikin cerita menarik.
Rebecca berakting agak di bawah standar, padahal tuntutan skenarionya tidak besar.
Akting Wanda Hamidah dan Karina Suwandi oke di sini. Tapi Ikang Fawzi kelewat lempeng. Kemampuan akting paling prima di film ini saya lihat ada di Tije.

Bisa dibilang, musik Dear Love banyak menyelamatkan suasana. Bagian yang hambar agak ketutup sama musiknya. Warna gambar dan seluruh setting film Dear Love ini beneran memanjakan mata. Segerlah.
Kamera berhasil mengambil gambar-gambar yang indah.
Paling juara adalah wardrobe-nya, berhasil mengalihkan dunia saya. Kece-kece banget 😍😍😍 *padahal gak cocok kalau saya pakai 😂
Paling saya salutin sama film Dear Love ini adalah gak ada adegan ciumannya. Tapi tetep ada berasa-berasa romantis. Ini film remaja yang cukup sopan. 

Secara keseluruhan film ini lumayan. Saya memberikan 2,5 dari 5 bintang.

Keterangan film Dear Love:
Sutradara: Dedy Syahputra
Penulis skenario: Oka Aurora
Pemain: Dimas Aditya, Mentari De Marelle, Billy Davidson, Wanda Hamidah, Tije, dll.
Genre: Drama, Romance
Durasi: 80 menit
Produksi: Andromeda Pictures & Himalaya Pictutures


6 komentar:

  1. Balasan
    1. Terima kasih juga sudah berkenan baca, Mbak ^^

      Hapus
  2. itu loh mba aku bilang senyumnya billy kayak gimana gitu *lol
    peace

    BalasHapus
    Balasan
    1. Se-senyumnya gemesin apa aneh, Mbak? >.<

      Hapus
  3. wah udah lama saya enggak update filmography perfilman lokal.
    Entah kenapa bawaannya males banget nonton akhir-akhir ini. entah film luar atau lokal. tapi makasih yak reviewnya
    oh iya kalau kebetulan cari tips fotografi mampir juga yah ke blog saya.
    gariswarnafoto[dot]com
    yukk mariii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mas Jack, film Indonesia berkualitas banyak kok ^^
      Siap, Mas, ini mau mampir ke blogmu :D

      Hapus