Jumat, 20 Januari 2017

Filled Under: , , , , , , , ,

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle

Share

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle


Menjahit sebenarnya bukan dunia asing buat saya. Selain karena Ayah membuka toko bahan-bahan jahit, sejak kecil, Mama sering menjahitkan baju-baju kembar untuk saya dan Evi. Saya seringkali menonton Mama ketika tekun menjahit. Saya juga punya ketertarikan untuk menjajal dunia jahit. Mimpinya sih waktu kecil dulu kepengin mendesain dan menjahit sendiri, terus buka butik deh. Namun satu kejadian bikin Eva kecil berhenti belajar jahit. Waktu itu saya dan Evi lagi semangat-semangatnya belajar, usia kami baru 9 tahun. Kami bergantian memakai mesin mama. Saking asyiknya menjahit, Evi enggak sadar kalau jarum jahitnya menusuk menembus telunjuknya. Saya menunjuk ke jari Evi sambil menjerit, barulah adik kembaran saya itu sadar kemudian syok. Masih jelas diingatan saya ketika Ayah mencabut jarumnya, hingga darah berceceran ke lantai. Semenjak itulah saya enggak lagi menyentuh mesin jahit.

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Mbak Astri Damayanti membuka acara
Beberapa tahun kemudian, saat SMP, saya dipertemukan kembali dengan dunia menjahit dalam pelajaran Tata Busana. Kami diajarkan berbagai macam tusuk-tusukan, seperti jelujur dan kawan-kawannya. Meningkat ke menjahit baju-baju kecil dengan tangan menggunakan bahan kertas entah apa namanya saya lupa. Awalnya saya menyukainya, tapi lama-lama karena hasil jahitan saya enggak pernah rapi dan nilai tertinggi hanya 75, saya pun lagi-lagi putus hubungan dengan dunia jahit ketika lulus SMP. Namun minimal, ada basic-lah kalau cuman benerin kancing copot doang mah. Makanya suka sebel kalau Prajurit Rumput bajunya robek dikit terus nanya, “Bisa jahitin gak?” Seolah ngeliat jarum aja saya bakalan pingsan.

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Belajar jahit pada Mbak Astri Dayanti
            Lain cerita jahit dengan dunia gambar. Sesungguhnya, karya pertama yang saya hasilkan itu komik pendek. Bercerita tentang Fredy si robot baik hati. Pembacanya hanya Evi seorang. Saya memang tertarik dengan gambar-menggambar. Sampai SMP saya masih suka meniru-nuri gambar komik dan majalah. Karier paling cemerlang di dunia gambar adalah sewaktu kelas 3 SMP. Saya bisa menggambar dari model pemandangan dan barang nyata. Suatu hari pelajaran kesenian mengharuskan para murid membuat gambar bebas. Maka saya memilih menggambar taman depan kelas. Ternyata gambar itu mendapat apresiasi luar biasa dari teman-teman dan guru. Alhasil saya diminta beberapa teman menggambarkan untuk mereka. Bahkan saya diberi julukan lebay “Picaso”. Namun, karier saya amat pendek. Selepas SMP, saya menggantung alat-alat gambar. Berhenti sampai di sana. Ulang tahun Ayah saya tahun lalu, saya mencoba menggambar skesta Ayah. Hasilnya gagal total, kata Ayah, “Enggak ada mirip-miripnya sama sekali.”

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Peralatan jahit yang diberikan untuk seluruh peserta
            Dua dunia yang sudah saya jauhi itu menyapa sekaligus dalam satu workshop yang diadakan Kriya Indonesia. Saya dihadapkan pada mesin jahit dan spidol warna. Hari itu perasaan saya campur aduk antara semangat, deg-degan, dan takut.
            Saya datang jam setengah sebelas siang, disambut teman-teman blogger yang ramah, pengajar cekatan, pihak Brother dan Stabillo yang hangat, dan camilan lezat buatan Marlo Kitchen. Sesi pertama dibuka oleh bincang-bincang seru dengan Mbak Astri sebagai pengajar, Mbak Maya dari Brother, perwakilan dari Stabillo, dan Abu Marlo lulusan The Master.

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Mari mulai menjahitnya
            Sesi kedua membuat adrenalin saya berpacu cepat, waktunya menjahit. Baru memegang alat dan bahan saja saya sudah gemetaran. Syukurlah, saya mendapat dukungan spirit dari Bunda Intan dan teman-teman blogger lainnya. Sambil menyimak Mbak Astri menerangkan, sesekali saya mengambil foto dokumentasi untuk menenangkan hati. Ketika akhirnya saya harus menggunting kain, saking berdebarnya, hasilnya cukup berantakan. Awalnya saya belajar menggunakan mesin jahit Brother dari Kang Ade Truna. Penjelasan runut beliau dan bantuan praktik langsung, membuat saya perlahan larut dalam kegiatan menjahit. Untungnya lagi Mbak Astri sabar mengajarkan saya cara menjahit lurus dan menghadapi bentuk kain melengkung sehingga saya bisa menyelesaikan baju sekaligus menyelamatkan guntingan acak-acakan tadi. 

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Para peserta workshop bersemangat menghias baju dengan doodle
            Ternyata menjahit menggunakan mesin jahit Brother enggak sulit seperti yang ada dalam bayangan saya sebelumnya. Mulai dari memasukan benangnya pun mudah, saya enggak mesti memicingkan mata karena tinggal mengikuti alur mesin yang didesain sedemikian rupa sampai benang masuk sendiri ke jarum. Pengaturan kecepatan mesin yang terdiri dari level satu, dua, dan tiga pun sungguh melegakan. Saya tak perlu takut menekan pedal terlalu kencang sehingga mesin tak dapat saya kendalikan. Benar-benar membantu pemula. 

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Belajar men-doodle
            Selesai menjahit, saya pun masuk ke ruangan lain untuk belajar doodle. Doodle ini dimaksudkan untuk menghias baju yang sudah dijahit tadi. Saya belajar pada Teh Ima dan Mbak Tanti Amelia yang ramah luar biasa. Mbak Tanti pandai memotivasi para peserta untuk tidak takut menggambar doodle. Bukan persoalan bagus atau enggaknya, tapi tahap awal adalah keberanian berkreasi. Doodle pertama saya memakai spidol permanen dari Stabillo berbagai warna. Warna-warnanya cantik menggoda, dan hebatnya enggak mengandung zat berbahaya yang membahayakan tubuh saat terhirup atau menempel di tangan.

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Nasi Bali Marlo Kitchen
            Sambil berpikir akan menggambar apa, saya menyelingnya dengan makan siang yang sudah disajikan Marlo Kitchen. Saya mencicipi Nasi Balinya dan Soto Betawinya lezat memanjakan lidah. Sotonya saya icip dari Teh Ida yang merelakan sebagian karena saya kepengin nyoba. Setelah perut kenyang, saya kembali berhadapan dengan peralatan doodle. Awalnya saya kebingungan akan menggambar apa. Setelah diberi tahu bahwa doodle biasanya menggunakan kotak-kotak, yang pertama saya buat adalah kotak. Barulah setelahnya saya bisa mengekspresikan diri dalam gambar. Saya gambar apa saja yang terpikir di benak. Sungguh menyenangkan, sampai enggak kerasa waktu workshop berakhir. Sayangnya waktu itu doodle saya belum selesai sempurna. Saya berniat menyelesaikannya di rumah.

Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Bersama pengajar kece Mbak Tanti Amelia
            Menurut saya, idenya brilian menyatukan workshop jahit dengan doodle. Selain peserta mendapat basic dua keahlian sekaligus dan hasilnya bisa dipakai pula, juga memberi ide untuk mengaplikasikannya lain waktu. Saya turut mengamini impian Mbak Maya men-support acara ini supaya lebih banyak ibu rumah tangga dapat lebih produktif dari rumah.
            Workshop kriya ditutup dengan foto bersama dan obrolan menyenangkan. Saya jadi ingin mengikuti workshop-workshop Kriya Indonesia berikutnya. Saya pun pulang dengan pengalaman seru yang ingin cepat saya bagi pada Mama. Mama pasti senang anaknya menyentuh mesin jahit lagi.


Kreasi Seru Kolaborasikan Menjahit Dengan Doodle
Seluruh peserta dan panitia berfoto bersama

9 komentar:

  1. Evi, foto terakhir jadi pengen balikan ke Marlo dan gelar acara lagi (gak sih?)

    Eh kayaknya ada yg perlu dilurusin (bukan menjahitnya), finalis Master Chef tapi lulusan The Master (sulap) season 1 :D

    BalasHapus
  2. kok Evi sih ... (gara2 baca ketusuk jarum sampai berdarah sih) Maksud saya : Abu Marlo BUKAN finalis Master Chef TAPI lulusan The Master (sulap) season 1 :)

    BalasHapus
  3. Nah loh Kang Ade tersepona sehingga menyebut Eva jadi Evi...

    Evaaaa makasih ya reportasenya manis dan gurih *sedang jajan cilok ama gulali soalnya* .. #bighugs

    BalasHapus
  4. Seru ya mbak isa belajar bareng2... Menjahit memang menyenangkan.

    BalasHapus
  5. Wuah aku seneng sekali kalau mendengar kata doodle teh Evi...
    Keren dan seru acaranya

    BalasHapus
  6. Kunjungan perdana mbak,salam kenal.
    mampir ya di blogq :)

    BalasHapus
  7. aku suka menjahit juga mbak...mesin jahit brother memang bagus ya mbk

    BalasHapus
  8. Beneran gak sulit pake mesin jahit brother ya, mbak? Nabung ah ^^

    BalasHapus
  9. Ternyata kegiatan menjahit gak kalah seru dengan ngeblog ya mbak. :D

    BalasHapus