Lifestyle,

Strategi E-Commerce dan Pembukuan Rapi: Kunci Sukses Pelaku UKM Era Digital

05.56 eva sri rahayu 2 Comments



Sebagai anak seorang pedagang, saya dan Evi—kembaran—tak lantas berminat menjadi pedagang juga pada awalnya. Padahal kedua orang tua kami sangat mendukung ke arah sana. Beberapa kali kami menolak mentah-mentah tawaran orang tua menjajal arena perdagangan. Soalnya kami sempat berpikir sempit bahwa menjadi pedagang itu repot sekali dan tidak sejalan dengan passion. Nyatanya, tak ada satu pun profesi yang tak repot kalau mau dilihat dari kacamata pesimistis, termasuk ketika hobi berubah menjadi profesi. Pada perkembangannya, dalam perjalanan hidup kami, akhirnya kami mengalami juga menjadi pedagang. Sayangnya, kurangnya niat, kerja keras, dan pengetahuan membuat kami tumbang di tengah jalan. Seperti tergoda memakai produk sendiri sehingga barang dagangan habis kami pakai ketimbang terjual. Kalau disebutkan satu per satu, tentunya berbagai alibi yang kami kemukakan akan sepanjang cerpen. Sampai suatu ketika, tuntutan hidup dan perkembangan e-commerce membuat mata kami terbuka. Kami kembali tertarik terjun dalam dunia perdagangan, lebih spesifik pada bisnis online yang tak memerlukan lapak fisik.

Sumber foto Dedew

Digital Breakfast #5: Retail is Detail
Berkaca pada masa lampau, selain mengumpulkan tekad, kami ingin ketika benar-benar berenang dalam dunia e-commerce kami telah memiliki pengetahuan yang layak sehingga tidak lagi gampang menyerah. Kesempatan menimba ilmu itu kami dapatkan dari menghadiri event Digital Breakfast #5 tanggal 7 September 2018 kemarin yang digelar di Lo.Ka.Si Cafe & Space di Jl. Ir. H. Djuanda No. 92. Acara yang diselenggarakan oleh SolusiUKM, Coconut Indonesia, dan Accurate Online ini bertema “Retail is Detail”.


Dari data yang terkumpul diketahuilah bahwa barang terpopuler di market place adalah elektronik dan fesyen. Saya langsung terpikir pembeli fesyen kebanyakan perempuan, sedang pembeli barang elektronik itu pria. Berkaca dari diri sendiri yang hobi belanja produk fesyen secara online. Hal lain yang menarik adalah data statistik memaparkan bahwa di Indonesia pengguna e-commerce terbanyak itu ternyata pria loh. Para pria ini memilih alamat kantor sebagai alamat pengiriman, beda dengan perempuan yang memilih alamat rumah. Fakta lainnya adalah kebanyakan melakukan window shopping di jam kantor. Sebenarnya ini hal lumrah kalau ditilik dari betapa ‘escape’ telah menjadi kebutuhan ketika bekerja, eh, itu sih saya. Membuka-buka market place semacam menjadi hiburan sementara mengusir penat.

Sumber gambar dailysocial.id


Strategi E-Commerce
Ada beberapa strategi yang bisa dilakukan oleh pelaku UKM agar bertahan dan maju dalam kerasnya dunia e-commerce. Berikut strategi yang disampaikan Kunto Wiyoga, Strategic Director Panenmaya Group:

1.    Identity
Yoga menganalogikan kita sedang berada di masa Avengers bukan lagi Superman. Di mana kita tidak mesti melakukan segala hal sendirian layaknya Superman. Seperti membuat produk, melakukan promosi, kemudian memasarkannya sendiri baik secara online maupun offline. Itulah kenapa ada penekanan terhadap ‘identity’. Kita melihat di manakah posisi kita berada. Apakah sebagai pembuat produk? Atau justru pemasarannya? Bila kamu memilih menjadi pembuat produk, percayakanlah pemasarannya pada reseller. Jika kamu ingin menjadi pemasar, kamu bisa menjual produk-produk orang lain. Bisa membuka jasa titip atau menjadi reseller. Dengan fokus pada satu hal, perkembangan usahamu lebih bisa memelesat.
Setelah menetapkan produk yang akan dijual, kita sebaiknya sering melakukan survei untuk mengetahui keunggulan kita. Baik dari segi kualitas maupun harga. Memasuki e-commerce bukan hanya harus berstrategi dalam menetapkan harga, kita mesti cerdas menyampaikan value produknya juga. Jika kita ingin unggul di ranah harga, kita dapat menjualnya dengan varian harga mulai dari paling rendah, di tengah-tengah, atau tinggi sekalian. Menurut Yoga, pembeli justru lebih memilih pertengahan, karena bila terlalu murah dianggap produk palsu. Eng... terus terang saya salah satunya yang berpikir begitu. Padahal ternyata ada banyak penjual yang membuka banyak akun sehingga bisa menjual produk sama dengan harga berbeda-beda. 


2.    Develop
Dulu orang berpikir untuk mengembangkan brand dan produk mesti memiliki website sendiri. Sekarang tak mesti demikian, kita bisa memanfaatkan berbagai media sosial, terutama yang sedang ngehits seperti Instagram. Kelola media sosial kita dengan baik karena kita mesti tampak selalu hadir dan konsisten. Lagi-lagi ya, dalam hal apa pun konsisten itu kunci! Hal yang tidak kalah pentingnya adalah memiliki akun di aplikasi chat. Karena faktanya, transaksi terbesar masih terjadi di chat ini. Selalulah beri respons pada calon pembeli. Market Indonesia sangat suka bertanya, meskipun sudah jelas tertulis di deskripsi. Mau bagaimana lagi, konsekuensi sebagai penjual online adalah selalu siap menjawab.
Develop a story before sales karena 'Milenial' sangat suka dengan behind the story. Hal ini meningkatkan value dari produk dan brand kita. Seperti menjelaskan visi di balik produk yang kita jual. Intinya sih sharing-sharing dulu, jualan kemudian. Yoga memberi contoh Batik Culture milik Dea Valencia yang  mempekerjakan disabilitas untuk membuat produk-produknya.

3.    Engage
Kata Yoga, engage a targeted market not only number of reach. Produk kita tak mesti dilihat sebanyak-banyaknya orang, tapi dilihat oleh orang-orang yang sesuai target market kita. Untuk itu kita dapat memanfaatkan media sosial maupun si mesin pencari terbesar Google. Instagram, Facebook, dan lainnya dapat membaca seseorang dari alogaritma. Bukan rahasia lagi sih ini kalau rekam jejak digital kita menjadi database bagi media sosial yang kita pakai. Bakalan ketahuanlah info-info semacam jenis kelamin, hobi, suka browsing apa saja, dan lainnya. Informasi yang terkumpul itu membuat pengiklan di media sosial mencapai target marketnya.
Engage ini terkait dengan poin sebelumnya, seperti cerita di balik produk yang bisa jadi karena related sama calon pembeli akhirnya dia memilih produk kita, atau membangun engage lewat chat tadi.

4.    Accelerate
Sebagai pelaku UKM lumrah bila kita mengiklankan produk kita maupun meng-endorse orang untuk mempromosikannya. Namun, jangan sampai lupa untuk mengukur dampak promosi, pemasukan, dan pengeluaran dengan akurat. Sehingga kita tahu mana promosi yang paling efektif dan efisien. Bila masih mengelola segalanya sendiri, pakailah aplikasi yang dapat membantu seabreg pekerjaan itu. Misalnya platform Naini yang dengan satu dasbor saja dapat mengelola seluruh kanal penjualan online. Kelebihan lainnya adalah bisa mengatur jumlah stok, pengiriman, dan handle chat untuk kamu yang memiliki banyak akun market place.

Pembukuan yang Rapi
Kunci sukses lainnya menjadi pelaku UKM di era digital adalah kerapian pembukuan. Ini kelemahan saya dan Evi, malas banget merapikan pembukuan. Dan ternyata menurut Lukman Bijak Bestari, Product Manager Accurate, malas membuat pembukuan penjualan itu memang kelemahan pelaku UKM. Jadinya kita tidak tahu pasti berapa sesungguhnya pengeluaran dan pemasukan. Belum lagi kalau bercampur dengan uang pribadi, salah-salah kita mengambil modal usaha untuk pembelian pribadi. Jangan sampai kacau balaunya pembukuan membuat usaha gulung tikar.


Belum-belum kita sudah berpikir bikin pembukuan itu ribet dan repot, padahal kita mesti melihat efek jangka panjangnya. Tapi ada loh aplikasi yang bisa membantu dan jadi solusi masalah ini, namanya Accurate Online, software akuntasi berbasis cloud. Accurate Online dapat memiliki berbagai jenis laporan keuangan yang dibutuhkan untuk menunjang operasional usaha secara instan setelah menginput pemasukan dan pengeluaran. Termasuk melakukan pemotongan pajak dalam laporan keuangan loh. Menggunakannya pun mudah loh. Kalau kamu berminat menggunakan Accurate Online, unduh saja Play Store. Ada fasilitas berlangganan sebulan gratis, sedang untuk bulan-bulan selanjutnya dikenai biaya 200 ribu rupiah. Termasuk ramah di kantonglah ya.
Itu dia hal-hal yang mesti diperhatikan supaya bisa maju dan bersaing sebagai pelaku UKM di masa digital ini. Siap buat praktik?

You Might Also Like

2 komentar: