Health,

Aman Atau Tidak Sih Memakai Styrofoam Sebagai Kemasan Makanan?

02.06 eva sri rahayu 13 Comments



Terus terang saja, saya sempat menghindari pemakaian styrofoam. Bahkan saya melarang Mama menggunakan styrofoam ketika melihat benda itu tertata rapi di dapur. Alasannya karena styrofoam membutuhkan waktu sangat lama bahkan tidak bisa diurai mikroorganisme. Belum lagi mendengar rumor yang beredar bahwa styrofoam enggak aman untuk makanan. Tapi... apa semua itu benar? Atau ternyata ada penemuan baru sebagai solusinya? Jawabannya saya dapatkan ketika mengikuti acara Cooking in Style with Chef Vera Christiani bertema "How to Make Good Quality Take-Away Foods" yang menghadirkan para ahli. Chef Vera ini jebolan Master Chef season 2 yang dulunya dijurii sama Chef Juna. Ini penting banget di-mention karena saya die hard fans-nya Chef Juna, eh. 


Pada awalnya, saya bingung saat melihat semua bahan makanan untuk demo masak kok disimpen di styrofoam. Kenapa ya? Kalau kata Chef Vera sih dia memakai styrofoam ini karena praktis, ringan, dan bikin bahan awet. Jadi ketika bepergian ke mana-mana enggak berat ngangkut-ngangkut bahan. Itu kan dari segi kepraktisan, tapi gimana dari segi kesehatan dan lingkungan? Sambil menunggu masakan jadi, saya menyimak penjelasan mengenai styrofoam dari dua pakar, yaitu Dokter Dianika Lestari ST, dosen program teknik pangan di ITB, dan Ir. Akhmad Zainal Abidin M.Sc., Ph.D kepala Laboratorium Teknologi Polimer dan Membran ITB. 

Dateng ke acara sama Rasi. Sama-sama diiket rambutnya biar keliatan kompak ^^

Beda Stiren dan Polistiren
Sederhananya stiren ini plastik dan polistiren itu busa yang mengandung sedikiiiit bahan plastik. Kadarnya jauh sekali dari ambang yang membahayakan tubuh. Jadi keduanya berbeda.
Menurut Dewan Ilmu Kimia Amerika Serikat sih begini: Polistiren dan stiren adalah dua zat yang berbeda. Meskipun polistiren dibuat dari stiren, namun menyatakan polistiren sama dengan stiren adalah seperti menyatakan berlian dengan karbon. Keduanya bukan merupakan zat yang sama.
Dokter Dianika Lestari ST, sedang menjelaskan tentang styrofoam

Amankah Memakai Styrofoam Sebagai Kemasan Makanan?
Menurut Ibu Dianika styrofoam untuk kemasan makanan itu... aman. Malah, ada beberapa kelebihan lain, yaitu:
1. Bahan makanan dalam styrofoam terjaga kualitasnya juga lebih awet, soalnya bahan makanan tetep bisa bernapas.
2. Ekonomis alias harganya murah.
3. Styrofoam ini ringan buat dibawa ke mana pun.
4. Bersih, higienis, dan enggak berpori. Styrofoam bisa mencegah kebocoran cairan dan bakteri dari bahan makanan semisal daging, unggas, dan makanan hasil laut. Ini sudah disetujui sama Badan Federal Pengawasan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA) pada tahun 1958 loh.
5. Di dalam styrofoam, makanan panas tetep panas, makanan dingin tetep dingin. Karena polistiren punya sifat isolasi yang bisa menjaga suhu makanan.

Pusat Harvard untuk Analisa Resiko menyatakan: Para ilmuwan telah menyimpulkan bahwa tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan pemaparan terhadap stiren dari makanan atau polistiren yang digunakan dalam wadah yang bersentuhan dengan makanan, seperti kemasan dan wadah penyajian makanan.

Kesimpulannya rumor tentang styrofoam yang enggak aman buat kemasan makanan itu hoax semata.

Pak Ir. Akhmad Zainal Abidin M.Sc., Ph.D sedang menjelaskan tentang styrofoam

Zaman Selalu Menyediakan Solusi Untuk Masalah Zamannya Sendiri
Sehabis mendengar penjelasan Ibu Dianika, saya makin semangat menyimak penuturan Pak Zainal. Kata Pak Zainal keunikan styrofoam ini dalam plastik ada udaranya. Udaranya bahkan mencapai 90 persen, karena itulah ringan dan aman ketika disentuh kulit saat menyimpan makanan panas di dalamnya. Pemakaian bahan bakunya pun hemat.

Untuk menyimpan bahan makanan styrofoam punya kelebihan ketimbang plastik dan kertas:
1. Plastik biasa tidak bisa diisi udara sehingga menghabiskan bahan lebih banyak.
2. Kertas yang dipakai untuk menyimpan bahan makanan harus dilapisi plastik dulu. Sehingga menghabiskan dua bahan. Dan ketika dibuang, tidak terurai cepat juga karena kertasnya sudah berlapis plastik.

Bersama Pak Zainal

Ini ada fun fact tentang styrofoam. Styrofoam yang dituduh sebagai penyebab banjir itu enggak bener. Justru styrofoam ini saking ringan, gampang dihanyutkan air. Yang bikin penyumbatan itu sampah-sampah yang berat semacam tempat tidur. Iya, memang beneran ada yang buang kasur ke sungai. Duh! Fakta kedua, sampah styrofoam dan plastik punya nilai ekonomi. Biasanya para pemulung yang ke rumah memang nyarinya sampah plastik untuk diolah lagi. Tugas kitalah ini di rumah selalu pisahin sampah organik dan nonorganik. Kalau rapi gitu kan sampah plastik berdaya guna lagi. Ini bukan berarti kita enggak mesti diet plastik loh ya. Ya sebisa mungkin pemakaiannya efektif dan efisien.



Solusi Pengolahan Limbah Styrofoam
Selain didaur ulang jadi kebutuhan rumah semacam home decor, adakah solusi lain untuk sampah styrofoam dan plastik? Ada! Solusi itu salah satunya ditemukan oleh Pak Zainal. Begini ceritanya.... Satu hari Prof. Akhmad membaca kertas-kertas edaran di kampus bertuliskan 'Wayah gini pake plastik?' dalam Bahasa Indonesia artinya 'Hari gini masih pake plastik?' Prof. Akhmad merasa tergelitik memikirkan solusinya. Lalu semester berikutnya, beliau mengadakan mata kuliah pilihan 'Pengolahan Limbah Plastik'.
Ujar beliau, "Kita hidup di zaman plastik bukan zaman jati." Yang saya terjemahkan bahwa kita tidak bisa melawan perubahan zaman, maka jalan terbaik adalah kita mesti mencari solusi masalah plastik ini.

Prof. Akhmad Zainal Abidin mengatakan cara menangani sampah styrofoam sebagai berikut:
1. Didaur ulang menjadi kebutuhan rumah.
2. Dikumpulkan kemudian diproses dengan "MASARO" alias manajemen sampah zero untuk diolah jadi BBM yang merupakan hasil penemuan beliau. Di Indramayu BBM paling laku merupakan BBM dari bahan plastik dan styrofoam. Saat ini Masaro sedang mempersiapkan aplikasinya. Mari kita tunggu.
3. Pola hidup kitalah yang mesti diubah. Bagaimana memanfaatkan segala hal di lingkungan kita. Ya itu tadi, memisahkan sampah plastik dan styrofoam dari sampah lain supaya bisa diolah lagi. Enggak susah kok. Di rumah tinggal siapkan saja 2 sampah untuk kategori yang berbeda.





Dalam menghadapi masalah satu zaman, kita mesti melihatnya dari sudut pandang zaman tersebut. Kita enggak bisa terpaku sama masa lalu. Kata Prof. Akhmad Zainal Abidin, “Styrofoam kalau diurai oleh mikroba ya akan sangat lama sekali, tapi ada solusi untuk uraian biologi. Styrofoam jika diurai energi termal hanya butuh ukuran detik, menghasilkan BBM.”
Kemudian saya menemui beliau, saya katakan bahwa penjelasan beliau membuat saya berpikir, "Prof, setiap zaman selalu menyediakan solusi untuk masalah zamannya, ya." Kemudian ucap beliau, "Kata-kata yang bagus, mewakili sekali."

Rasi sedang membuat shusi pertamanya ^^

Rasi dan Vito tampak seru-seruan di taman

Setelah selesai mendengar penjelasan kedua ahli, kami sampai sesi membuat shusi partneran dengan anak. Ini yang Rasi tunggu-tunggu dari tadi. Makanya dia semangat banget belajarnya. Seru banget deh! Seneng deh liat Rasi selama acara keliatan girang, soalnya dapet temen baru juga, Vito ^^

Rasi bersama Chef Vera ^^

Saya jadi enggak was-was lagi memakai styrofoam sebagai kemasan makanan, enggak lagi ngelarang Mama deh. Dan... saya jadi makin optimis, bahwa bumi selalu bisa kita jaga, bahwa di masa depan, anak-anak cucu kita akan tetap merasakan indahnya hidup di bumi.

You Might Also Like

13 komentar:

  1. nah ternyata salah menuduh styrofoam ya teh kasian selama ini kena pitnahan hahaha ternyata kalau diolah kembali dengan baik justru bisa menghasilkan something new ya teh

    BalasHapus
  2. Saya selama ini suka nuduh styrofoam ga bagus buat makanan loh, kan jadi ngeri kalau jajan yang wadahnya di styrofoam. Makasih pencerahannya teh

    BalasHapus
  3. Setelah baca ini, saya jadi nggak terlalu khawatir apalagi saya suka pesen ramen hehe tfs ya teh

    BalasHapus
  4. Ada solusi pengolahan limbah styrofoam, ini penting banget. Makasih infonya.

    BalasHapus
  5. Naini... aku suka deh kalo ada pembahasan ttg environment friendly gini... ayo sayangi bumi

    BalasHapus
  6. Baca artikel ini jadi tahu deh aman pakai styrofoam, ternyata ada pengolahan limbahnya jadi aman untuk bumi kita

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah ya, styrofoam ternyata aman buat makanan. Jadinya gak takut lagi kalo beli makanan kemasannya styrofoam :)

    BalasHapus
  8. Wah padahal di Bandung sempatenyeruak bahkan ada aturan gak pakai Styrofoam dari walkotnya waktu itu jadi bingung ini. Hehehehe

    Jadi setelah ada penjelasan ini boleh ya pakai Styrofoam

    BalasHapus
  9. Wah ternyata aman ya...sering manut sama katanya2 sih kalau saia..buktinya enggak tau hehe..

    BalasHapus
  10. Makasih sharingnya teh, baru tahu styrofoam bahannya nggak berbahaya. Yang berbahaya justru limbahnya ya..

    BalasHapus
  11. Ternyata aman ya Teh kalau penggunaannya bijak

    BalasHapus
  12. Semoga segera terrealisasi ya program Profesor, biar sampah-sampah stryfoam bisa didaur ulang.

    BalasHapus