3 Dara 2,

Film 3 Dara 2: Ketika Kepala Keluarga Berada di Wilayah Domestik

11.02 eva sri rahayu 3 Comments

Film 3 Dara 2: Ketika Kepala Keluarga Berada di Wilayah Domestik


Film 3 Dara 2 masih mengangkat gagasan mengenai nilai kesetaraan sebagai manusia, melibat gender, hanya lebih menekankan pada fase 'rumah tangga'. Tiga tokoh utamanya Jay (Adipati Dolken), Afandi (Tora Sudiro), dan Richard (Tanta Ginting) pasca kebangkrutan mereka akibat tertipu oleh Bowo (Dwi Sasono), mesti berperan sebagai 'bapak rumah tangga' yang berjibaku dengan segala urusan domestik. Sementara para istri yaitu Aniek (Fanny  Fabriana), Kasih (Rania Putrisari), dan Grace (Ovi Dian) menjadi wanita karier. Mengambil alih tugas sebagai tulang punggung keluarga untuk membayar utang-utang suami mereka yang berjumlah puluhan miliar.

Sumber gambar: trailer film 3 Dara 2

Cerita dibuka dengan adegan konsultasi ketiga dara dengan Windy (Rianti Cartwright)—psikolog mereka—yang menanyakan perihal pandangan mereka mengenai perempuan. Meski ketiganya telah memiliki sisi penghormatan terhadap peremuan—hasil pengalaman menjalani kutukan menjadi perempuan di kisah sebelumnya—mereka tetap meremehkan tugas-tugas domestik yang diemban para istri di rumah. Scene beralih pada pernikahan Richard yang dihadiri Eyang Putri (Cut Mini). Inilah awal mula konflik terbesarnya. Eyang Putri menatap sebelah mata pada Afandi menantunya yang dianggap tidak mumpuni sebagai kepala keluarga sekaligus ‘mokondo’, karena perusahaan yang dijalankan Afandi selama ini ternyata milik sang mertua. Apalagi melihat bagaimana Afandi memperlakukan Aniek seperti pembantu. Afandi yang ingin terbebas dari penilaian negatif dan intimidasi mertuanya menerima ajakan bisnis sayuran organik dari Bowo.

Ketika Kepala Keluarga Berada di Wilayah Domestik
Sejak pembukaan film, penonton disuguhi kelucuan-kelucuan, mulai dari komedi yang masuk akal hingga yang terasa agak maksa—termasuk parodi dan unsur horornya—berhasil memancing tawa. Terasa ‘geeerr’ di beberapa bagian. Komedi dibangun terutama dari tingkah para pria ketika menjalankan tugas domestik, juga kekonyolan solusi-solusi mereka untuk membayar utang. Betapa ketiga dara merasa tersiksa mengurusi pekerjaan rumah yang tiada habis. Meskipun demikian, terasa sekali adanya nilai edukasi yang diemban. Ketiga penulis skenario, yaitu Nataya Bagya, Fatmaningsih Bustamar, dan Monty Tiwa berusaha memberi pandangan berimbang dari segi istri maupun suami. Pemilihan penyampaian gagasan lewat jalur komedi terasa pas karena mudah dicerna dan aman, sehingga tidak tampak menyinggung pihak mana pun. Sesungguhnya di masa kini, sudah tidak mengherankan jika kita menemukan laki-laki yang cakap di wilayah domestik dan perempuan yang sukses berkarier sehingga menghasilkan uang banyak. Baik itu berstatus single ataupun telah berumah tangga. Wilayah tugas mana yang diemban tergantung kesepakatan masing-masing pasangan. Meski memang masih banyak stigma negatif terhadap pasangan yang menempatkan pria di wilayah domestik dan perempuan yang bekerja. Pria dianggap tidak cakap sebagai kepala keluarga, sedang perempuan dituduh tidak becus menjadi kepala rumah tangga.

Sumber gambar: trailer film 3 Dara 2
Kemudian dari segi akting, semua pemain tampil cukup bagus. Termasuk Soleh Solihun yang berperan sebagai Jentu si ajudan Eyang Putri. Saya tidak melihat ada satu pemain yang tampak menonjol. Tentunya ini juga berkat arahan dari Monty Tiwa sang sutradara.

Sekuel 3 Dara 2
Sekuel cerita selalu menanggung beban ekspektasi penikmat kisah pertamanya. Ada yang lebih baik, ada yang kualitasnya menurun, atau seimbang. Tapi itulah risiko yang harus diambil ketika membuat sekuel, bukan? Ketika menonton film pendahulunya, saya sangat menikmati jalinan kisah dari awal hingga akhir. Komedinya cukup menggigit, ceritanya cukup bagus, dan isu yang diusung tersampaikan dengan baik. Namun, sekuelnya terasa kurang solid. Kekurangan terasa dari segi cerita. Sekuel 3 Dara 2 tampak terlalu berat menanggung gagasan yang dikemukakan. Terasa terlalu banyak bermain-main dengan komedi, seolah penonton mesti sering-sering diajak tertawa. Tapi jadinya, ketimbang memberi adegan-adegan yang lebih mendekati realitas, 3 Dara 2 lebih memilih hal-hal absurd untuk ditertawakan. Memang salah satu formula komedi adalah menabrak realitas, tapi kisah film ini menjadi kedodoran, sehingga memunculkan pertanyaan karena logika cerita. Seperti: mengapa ketiganya suami bisa tidak bekerja? Iya, Afandi memang bisa meminta cuti pada kantornya. Tapi Jay dan Richard bagaimana? Sebagai pria-pria yang telah malang melintang di dunia bisnis, apakah tidak ada cara lain untuk mencari pekerjaan sampingan dengan memanfaatkan kolega-kolega mereka? Kemudian, dari mana hitungan bahwa bila para wanita yang bekerja mereka akan bisa membayar utang lebih cepat? Logika cerita itulah yang membuat film ini terasa mengganjal.

Sumber gambar: trailer film 3 Dara 2

Di akhir, penonton diberi twist yang bisa dibilang tidak mengejutkan. Saya mengira-ngira, twist ini memang tidak didesain agar penonton terperangah karena gampang ditebak. Lebih pada penyelesaian yang mudah dan dianggap paling bijak pada kasus cerita ini.

Di luar dari kekurangannya, 3 Dara 2 adalah film yang menghibur, berani menyajikan gagasan kuat dan penyampaian pesan yang jelas. Di sela tawanya, penonton diajak merenungkan mengenai nilai kemanusiaan, konflik-konflik rumah tangga, dan betapa pentingnya saling mengapresiasi antara pasangan.

3 dari 5 bintang untuk film ini.


You Might Also Like

3 komentar:

  1. Film komedinya oke karena ada pesan moral yg disampaikan tanpa menggurui.

    BalasHapus
  2. Ketika menonton film ini pun saya memiliki banyak pertanyaan. Seperti tokoh Affandi itu kan digambarkan sebagai direksi. Ya walaupun bekerja di perusahaan mertua, tetapi kalau udah sampai jajaran direksi harusnya punya solusi yang lebih bagus dibandingkan terus melakukan kekonyolan. Tetapi, kemudian saya mikir, ya mungkin karena ini film komedi yang memang sengaja dibuat seperti itu. Setidaknya pesan dari film ini dapat

    BalasHapus