Kamis, 18 Agustus 2016

Filled Under: , ,

Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan

Share
Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan
Sumber gambar xpresi dot co

Sejak menonton trailer film 3 Srikandi, saya dibuat terkesan. Trailer yang mengentak dan heroik. Karena filmnya diperuntukkan bagi semua umur, maka saya mengajak keluarga untuk menontonnya. Tujuannya untuk mengenalkan Olimpiade dan salah satu bentuk kepahlawanan pada anak saya yang masih berusia tujuh tahun. Pasti jadi pelajaran yang menarik untuknya. Sekolah dari tontonan. Apalagi pas sekali besoknya hari kemerdekaan RI. Kami ternyata menjadi pembeli karcis pertama malam itu. Tapi syukurlah, ketika kami memasuki ruang teater, belasan penonton telah duduk manis di sana, Selama menonton, sesekali saya memperhatikan anak saya. Apakah dia mengantuk atau terlihat bosan? Nyatanya dia menonton dengan serius dan bersemangat.

Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan
Menunggu film dimulai
Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan

Film 3 Srikandi menceritakan tentang perjuangan tiga atlet perempuan, Nurfitriyana (Bunga Citra Lestari), Kusuma Wardani (Tara Basro), dan Lilies Handayani (Chelsea Islan) bersama pelatih mereka yaitu Donald Pandiangan (Reza Rahadian) untuk meraih medali di olimpiade Seoul, Korea Selatan, tahun 1988. Berbagai konflik pribadi dan tempaan latihan keras, serta pertandingan yang ketat harus mereka lalui.

Film dibuka dengan adegan-adegan yang telah saya tonton di-trailer-nya, yaitu latar masalah keempat tokoh utama yang disajikan bergantian. Tapi kali ini terasa kurang menyentak karena paduan musik yang agak mengganggu. Sebenarnya saya menyukai musik pembukanya, hanya saja kurang mulus perkawinan dengan adegannya. Menarik mengetahui latar belakang kenapa Indonesia membatalkan keikutsertaan dalam Olimpiade Moskow. Makinlah saya tak sabar untuk tenggelam dalam adegan-adegan pasca pembuka. Jika film lain harus susah-susah menutupi akhir kisahnya, 3 Srikandi merupakan film dengan tipe cerita yang telah memproklamirkan akhir kisahnya, bahwa keempat tokoh utamanya mencapai tujuan mereka. Memenangi medali pertama untuk Indonesia di Olimpiade Seoul Korea tahun 1988. Maka dari itu yang pertama terpikir oleh saya, kekuatan skenario 3 Srikandi terletak pada proses bagaimana medali itu dapat diraih. Saya termasuk yang buta sama sekali akan proses panjang jatuh bangun atlet untuk memperoleh kemenangan.

Tiap kali adegan memanah, saya memperhatikan baik-baik ketiga aktris. Apakah mereka sanggup membuat penonton percaya bahwa mereka adalah atlet panahan? Buat saya, ya, mereka berhasil membuat saya percaya mereka benar-benar bisa memanah. Dapat saya bayangkan latihan macam apa dan gemblengan seperti apa yang dilalui Bunga, Tara, dan Chelsea sebelum syuting 3 Srikandi. Terbayang oleh saya, mereka harus juga latihan fisik persis seperti atlet yang mereka perankan, meski dalam porsi yang tidak seberat atlet aslinya. Belum lagi peer Tara dan Chelsea bertambah dengan mempelajari dialek daerah. Aktris seperti kertas origami, harus siap dibentuk berbagai macam wujud. Sutradara Iman Brotoseno berhasil membentuk mereka sesuai dengan tuntutan naskah. Akting keempat pemeran utamanya bagus. Karakter keempatnya kuat. Apalagi Chelsea dan Tara yang berhasil memukau saya. Keduanya terasa natural berbicara dengan dialek daerah. Sedangkan Bunga, sebenarnya buat saya kemajuan aktingnya hanya terletak di adegan memanah, selebihnya Bunga tampil seperti standar saja karena memang tidak ada bagian lain dari naskah yang menuntutnya mengerahkan kemampuan lebih. Bukan hanya tokoh-tokoh utama, akting hampir semua pemeran 3 Srikandi tampil cukup baik. Chemistry keempat tokoh utamanya pun terbangun dengan baik, membuat saya yakin, begitulah adanya hubungan keempatnya di dunia nyata. Angkat topi untuk Iman sebagai sutradara. Namun, ada satu peran yang menurut saya aktingnya kurang baik, yaitu pemeran bapaknya Kusuma. Dalam satu adegan, ketika beliau memarahi Kusuma sebelum dia berangkat pelatnas, bapak Suma ekspresinya kelihatan kebingungan dengan mata kosong ketimbang sedang marah besar.

Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan
Sumber gambar rizapahlevi dot com
Lewat dari setengah film, saya mulai agak resah. Pasalnya pembagian sub konflik untuk ketiga tokoh utamanya tidak merata. Bisa jadi, hal ini dikarenakan masalah yang membelit ketiga atlet pada waktu itu memang berbeda banyaknya juga kerumitannya dalam kehidupan nyata mereka. Sehingga salah satunya, yaitu kisah tentang Lilies jadi lebih menonjol dengan dinamikanya. Konfliknya naik turun mengaduk-aduk emosi, berhasil karena pendalaman dan porsinya paling banyak. Sedangkan untuk Kusuma, porsinya sudah pas. Untuk cerita Fitriyana, konfliknya tidak tergali dengan baik. Kurang kedalaman, masalah yang dialaminya disampaikan dengan tawar. Padahal latar belakang orangtua Fitriyana dan stres mengerjakan skripsi sudah cukup menekan psikologis dan bahan konflik yang baik, tapi jadi terasa selewat lalu. Penulis naskah Swastika Nohara dan Iman Brotoseno terlihat berhati-hati dalam memberi tambahan sub konflik supaya tidak terasa mengada-ada. Namun, seperti kata Iman Brotoseno, mereka tetap memberi bumbu untuk dramatisasi cerita. Menurut saya, tanggung diberi bumbu, mestinya dibikin sedap sekalian. 

Saya menikmati adegan-adegan saat senggang latihan, penonton jadi tahu seperti apa para atlet di luar kegiatan latihan-latihan-latihan. Bahwa mereka tetap perempuan yang memiliki idola bintang film, suka bernyanyi-nyanyi di kamar, kadang melanggar disiplin, dan jatuh cinta. Saya yakin, ada agenda yang ingin disampaikan melalui adegan-adegan tersebut. Apalagi adegan-adegan itu makin dipercantik oleh sajian musik masa lampau yang ciamik. Penonton diajak bernyanyi riang dan bergoyang. Juga sentuhan komedi segar yang tercipta terutama dari Indra Birowo dan Chelsea. Mungkin Iman dan Swastika ingin memperlihatkan, bahwa film bertema nasionalisme tak perlu melulu mendikte penontonnya dengan cerita yang berat. Tapi buat saya porsinya kebanyakan. Plotnya jadi tidak terasa penuh dan padat. Saya mengharap lebih dari proses latihan menuju kemenangan, jatuh bangunnya latihan yang melelahkan jiwa raga, sehingga penonton merasakan pahit getir suka duka menjadi atlet panahan. Satu adegan yang saya sayangkan, adegan memanah saat hujan. Adegan itu sudah drama sekali, berpotensi menguras emosi, tapi durasinya terlalu singkat. Mungkin menghindari klise penggunaan dramatisasi hujan. Ketimbang berlama-lama mengupas waktu senggang, akan lebih seru jika dipakai untuk mempertajam sub konflik kehidupan Fitriyana.

Meski memiliki kekurangan, skenario 3 Srikandi patut diacungi jempol. Skenarionya memuat kritik sosial yang cukup banyak. Misalnya konflik percintaan antara Lilies dan Denny dilatari oleh kenyataan bahwa hidup sebagai atlet di Indonesia belum bisa menyejahterakan. Dimunculkan pula keberagaman suku yaitu bahwa ketiga atlet berasal dari tiga daerah berbeda, nyatanya tak menjadi dinding untuk kekompakan, dan sekat ego untuk sama-sama mengharumkan nama bangsa.

Setting dan wardrobe 3 Srikandi hampir sempurna, benar-benar membawa ke masa tahun 80-an. Musiknya pun bagus. Adegan dengan musik paling epik dan membangun suasana adalah ketika Donald memberi motivasi pada para atletnya di ruang ganti olimpiade. Kata-katanya menyentuh dan membuat saya merinding. Adegan itu atmosfernya membuat saya merasa benar-benar berada di ruang atlet di Seoul, terbang ke tahun 1988. Adegan itulah sampai akhir film yang berhasil melelehkan air mata saya. Tegang, haru, dan ikut bangga bersama mereka. Apalagi dipungkas oleh soundtrack "Tundukan Dunia" gubahan Andi Rianto yang diisi roh nasionalisme. 3 Srikandi menutup film dengan bagian terbaiknya. Memperlihatkan reka ulang sejarah dengan euforia sempurna. Dua jam telah berlalu, tapi saya tak merasa telah melalui waktu sepanjang itu.

Ada satu pertanyaan dari resensor buku bernama Arief Bakhtiar yang menggelitik saya, "Setiap kali kita selesai membaca sebuah buku, setiap kali halaman terakhir ditutup dan kita terkesan, ada pertanyaan penting yang mengganggu kesadaran: Apakah kita masih orang yang sama seperti sebelum membaca buku itu?"
Bagi saya, pertanyaan itu berlaku pula untuk film yang saya tonton. "Setiap selesai menonton film, setiap kali keluar dari ruang teater bioskop dan kita terkesan. Apakah kita masih orang yang sama, seperti sebelum menonton film itu?" Saya pernah mengalaminya, mendapati bahwa saya bukan lagi orang yang sama setelah menonton sebuah film. Waktu itu usia saya belum genap sembilan tahun, tapi keajaiban film telah mengubah saya. Film itu berjudul "Gone With The Wind" yang saya tonton secara sembunyi-sembunyi. Maka saya tidak pernah meragukan kekuatan sebuah karya untuk menyirami jiwa, bahkan mengubah banyak hal di dunia. Selesai menonton 3 Srikandi, saya memang belum mendapati bahwa saya telah menjadi berbeda. Namun film ini telah menyentak kesadaran dalam satu pertanyaan, "Apa yang sudah saya beri untuk Indonesia?" Film ini mampu mengajak berpikir dan mempengaruhi penontonnya dengan penyampaian yang mudah dicerna. Saya bisa mengatakan film ini mempengaruhi karena semenjak pulang menonton, anak saya jadi ingin bisa memanah, dan terlihat bangga menjadi warga Indonesia. Sedang bagi saya, film ini berhasil mengembalikan euforia pada olimpiade. 3 Srikandi merupakan satu karya dari bentuk lain mencintai bangsa. Begitulah, pada akhirnya kita mencintai Indonesia dengan cara berbeda dengan bentuk bermacam-macam karya. Apresiasi sebesar-besarnya untuk karya film pertama Iman Brotoseno.

Film 3 Srikandi, Proses Menuju Kemenangan

Rating saya untuk 3 Srikandi 3,5 Bintang dari 5.

19 komentar:

  1. Penasaran jadinya pengen nonton merinding y mba liatnya pasti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Berasa jadi atlet, heuheu

      Hapus
  2. Kayanya belom nyampe semarang film ni mbak. Nanti klo udah pengen nonton ah

    BalasHapus
  3. Film ini memang keren, jadi pengen nonton lagi deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu sama, Mbak, saya juga kepengin nonton lagi.

      Hapus
  4. Nonton ah..bareng anak-anak asik kali ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mak. Meskipun ada beberapa adegan yang mesti dikasih pengertian ke anak-anak.

      Hapus
  5. Pas ya momentnya peluncuran 3 srikandi dan nonton dan kemerdekaan RI. Seru baca reviewnya walau agak spoiler dikit. Hi hi hi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heuheu, iya, Va. Maafkan ke-spoilerannya

      Hapus
  6. Pas ya momentnya peluncuran 3 srikandi dan nonton dan kemerdekaan RI. Seru baca reviewnya walau agak spoiler dikit. Hi hi hi.

    BalasHapus
  7. Balasan
    1. Yuk, Mbak, filmnya inspiratif nih ^^

      Hapus
  8. Barusan nonton ini hari Minggu yang lalu. Filmnya bagus, tapi emang konfliknya kurang tergali. Kalau mau digali semua, mungkin filmnya bakal jauh lebih lama. Tipe cerita yang lebih cocok kalau formatnya tulisan kali, ya.

    Btw, itu adegan olimpiadenya niat banget ya. Saya sampai kagum lihat settng-nya mereka :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebenernya sih bisa dengan durasi sama, hanya mesti motong bagian yang porsi lainnya aja.

      Iya ya. Salut.

      Hapus
  9. jadi pengen nonton nih, mengingat olahragawan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, penghargaan buat para pahlawan olahraga juga ^^

      Hapus