Film Koboy Kampus: Jalan Lain Berdemo



Ketika saya menjadi mahasiswi, seringkali organisasi mahasiswa yang saya ikuti mendapat undangan berdemo untuk mengkritisi berbagai hal. Kadang saya berpartisipasi meski dalam kepala berpikir “Masih efektifkah demo turun ke jalan untuk menyampaikan aspirasi?” Jika menengok jauh ke belakang lagi, saya menyaksikan di layar TV bagaimana aksi demonstrasi besar-besaran gabungan mahasiswa dari seluruh penjuru Indonesia berhasil menurunkan presiden Soeharto yang saat itu telah menjabat selama puluhan tahun. Namun, zaman terus berubah, bukan? Cara menyampaikan aspirasi pun makin kaya. Pemikiran itu kembali menyeruak ketika menonton film Koboy Kampus.

SIMILAR POSTS

Koki-Koki Cilik 2: Siapa yang Kembali ke Cooking Camp?







Ketika melihat trailer Koki-Koki Cilik, saya langsung ingin menontonnya. Sayangnya belum terwujud. Maka saat sekuelnya muncul, saya tidak ingin melewatkannya. Ada dua hal yang menggelitik dari Koki-Koki Cilik, yaitu memasak dipadu dengan camp. Ikut acara-acara camp seperti itu selalu menjadi impian masa kecil saya. Menikmati momen-momen dengan orang-orang dalam satu tempat, suatu pengalaman luar biasa. Kemudian, meskipun saya selalu menasbihkan diri sebagai chef masakan khusus makanan survival, sesungguhnya memasak buat saya merupakan refreshing. Kedua elemen tadi sudah cukup menggerakkan kaki saya menuju bioskop. Ditambah lagi pada musim liburan sekolah seperti sekarang, saya kepengin mengajak anak saya, Rasi, untuk menonton film yang sesuai dengan usianya. Nyatanya pemilihan momentum liburan sekolah ini sangat tepat, karena pada penayangan perdananya, tanggal 27 Juni 2019 lalu, Koki-Koki Cilik 2 berhasil membuat antrean tiket mengular. Bioskop dipenuhi keriangan anak-anak yang heboh memasuki studio.


SIMILAR POSTS

Mudik Gratis dan Asyik Tanpa Plastik Bersama Sido Muncul

Mudik Gratis dan Asyik Tanpa Plastik Bersama Sido Muncul


Saya selalu terenyuh tiap kali membaca tulisan seorang teman perantau yang menyatakan kerinduannya pada ibunya. Kerap kali dia menumpahkan kerinduannya pada puisi. Betapa keinginan untuk mudik melimpah ruah, pulang pada kampung halaman, pulang untuk mencium telapak tangan ibu. Tak terbatas pada lebaran, kapan pun mudik tampaknya menjadi momen spesial untuknya.


SIMILAR POSTS

Segarkan Kembali Tubuh dengan Perawatan GO-MASSAGE dari GO-LIFE


Hidup sebagai freelancer sekaligus orangtua tunggal membuat saya sering mendapat kejutan. Namanya pekerja lepasan, kadang sepiiii banget orderan, tapi kadang ujug-ujug dapat kerjaan yang numpuknya kayak penumpang KRL. Meskipun kerjaan beresin rumah sih enggak pernah kosong, tahu sendirilah ya bagaimana pekerjaan ibu rumah tangga yang menuntut waktu 24 jam 7 hari alias sepanjang waktu. Semuanya mesti dikerjain sendiri, belum lagi bantuin ngerjain peer anak yang makin hari makin bikin emaknya mesti belajar lagi. Untung punya anak mandiri. Perkara beres-beres rumah memang dikerjain apa enggaknya sih tergantung mood, lah! Seperti biasanya di bulan Ramadan, aktivitas makin padat merayap. Apalagi di hari-hari awal, badan masih beradaptasi, jadinya tubuh cepet capek. Bulan-bulan biasa pun kalau udah banyak mesti keluar kota atau dateng ke acara malam, badan suka nge-drop. Gampang masuk angin memang saya ini.


SIMILAR POSTS

Hal-Hal Ini Bisa Bikin Mudik Bareng Jadi Asyik, Aman, dan Lancar



Meskipun saya selalu bilang bahwa mudik membawa kesan khusus dalam hidup saya, sesungguhnya ada drama-drama di balik itu yang membuatnya terasa mendalam--pada akhirnya. Kalau ditanya mudik paling terkenang, saya pasti menjawab: Mudik ke kampung halaman ayah saya di Palembang waktu saya masih SD. Saat itu kami mudik menggunakan kendaraan. Mudik bersama keluarga rasanya terdengar sangat menyenangkan. Berumpul setelah selama ini sibuk dengan urusan masing-masing, bareng-bareng melewati perjalanan panjang menuju satu tempat yang memiliki sejarah penting bagi keluarga. Nyatanya, tidak begitu buat saya pada saat kecil. Saya malah merasa terjebak! Panas, pegal, dan… diatur sepanjang perjalanan. Drama-drama pertengkarannya juga bikin enggak betah. Kalau kata Mama mengutip peribahasa Sunda begini, “Jeung dulur mah ari jauh seungit kembang, ari deukeut bau tai.” Ya memang bener sih sama keluarga itu ketika jauh bikin kangen, ketika bareng-bareng ada… aja perselisihan. Pada awal perjalanan ingin kabur, tapi seiring dengan makin panjangnya jalan yang kami lewati, saya mulai menikmati dan beradaptasi, bahkan akhirnya benar rasanya menyenangkan. Dari bete-betean, jadi bercanda-bercandaan.


SIMILAR POSTS

Berhenti Khawatir Sepanjang Perjalanan Setelah #UninstallKhawatir dengan GOJEK

Berhenti Khawatir Sepanjang Perjalanan Setelah #UninstallKhawatir dengan GOJEK

Jika disuruh memilih waktu perjalanan favorit antara pagi, siang, sore, dan malam, saya dengan mantap akan menjawab malam hari. Angin dingin yang menerpa kulit memberi sensasi yang menyenangkan sekaligus menenangkan, saya merasa lebih hidup. Belum lagi pemandangan city light yang terasa begitu romantis. Keheningan jalanan yang lengang memberi ruang kepala untuk memikirkan hal-hal yang mematik inspirasi berkarya.

SIMILAR POSTS

Sentuhan Etnik Untuk Gaya Casual Chic

Sentuhan Etnik Untuk Gaya Casual Chic


Beribu-ribu abad silam, saya dinobatkan sebagai orang yang secara style “enggak terselamatkan” saking seringnya memakai baju, sepatu, dan aksesoris yang tabrakan tapi enggak mantes. Telinga sampai bosan sendiri mendengar kuliah puluhan SKS tentang betapa anehnya style saya dari kakak dan adik kembaran. Baru beberapa tahun inilah saya insaf. Sebenernya saya nyaman dengan gaya chic alias kepengin tampak anggun, meskipun ya… kalau lagi freeze kayak maneken sih bisa keliatan anggun, giliran gerak dikit aja langsung ambyar! Namun, kegiatan saya di luar rumah mulai padat, agenda ke luar kota yang mengharuskan bergerak gesit membuat saya berpikir untuk bergaya casual. Perjalanan panjang, mesti membawa banyak barang, ditambah kadang meliput acara di area jalanan membuat pilihan memakai wedges atau stiletto terdengar bikin kaki pegal-pegal sebelum menjalaninya. Akhirnya sepatu kets jadi partner setia saya. Resmilah saya melabeli gaya saya sebagai casual chic.

SIMILAR POSTS