Review,

Jadi Ibu Pelaku UMKM Bijak dengan Pengelolaan Keuangan yang Baik

01.46 Eva Sri Rahayu 3 Comments




"Bigger is not always better", karena kita enggak tahu usaha orang itu untung atau bakar uang.
--Prita Ghozie

Saya buka dengan kata bijak dari Mbak Prita Ghozie sebagai pengingat pada diri sendiri. Bahwa dalam menjalankan usaha apa pun kadang kita melihat usaha orang lebih baik dari kita. Apakah lebih cepat maju, tampak lebih banyak untung, dan lainnya. Padahal belum tentu kenyataannya begitu. Dan kita pun enggak pernah tahu, kan, seberapa hebat banting tulangnya. Memiliki role model memang enggak ada salahnya, tapi membandingkan diri sampai timbul sirik sehingga ngabisin energi sih malah bikin rugi. Mendingan fokus sama usaha sendiri. Itu aja udah bikin nangis kejer kayak pas nonton drakor paling sedih segalaksi. Godaan buat mengibarkan bendera putih kenceng banget, Kakak…! 




Hari gini sebagai emak-emak, lumrah banget punya usaha. Ye… kan? Alasannya bisa sepanjang kenangan. Buat memenuhi kebutuhan sehari-hari, beli skin care yang harganya menohok nurani terdalam, eksistensi, sampai menjalankan passion. Tapi-tapi-tapi, gimana biar usaha kita lancar dan mulus kayak seluncuran? Nah, itu dia… saya juga enggak tahu! Loh! Tapi Mbak Prita Ghozie tahu kunci-kuncinya. Untungnya, tanggal 28 Agustus 2019 kemarin saya ikutan workshop yang diadakan Visa dengan program ‘Ibu Berbagi Bijak’ bekerja sama dengan Emak-Emak Blogger dengan pembicara Mbak Prita dan Pak Teguh Danarahayu dari Otoritas Jasa Keuangan. Denger materinya bikin jantung saya berjleb-jleb ria.

Jadi Ibu Pelaku UMKM Bijak dengan Pengelolaan Keuangan yang Baik

Sebagai freelancer, saya enggak pernah menduga bahwa pekerjaan itu termasuk ke dalam wirausaha. Ya ampun, sungguh saya kurang update. Jadi, mesti ada perencaan yang matang selayaknya usaha lainnya. Baik, kalau begitu mari mendengar Mbak Prita dengan khidmat biar jadi ibu pelaku UMKM yang bijak dalam mengelola keuangan dan usaha.

Vice Presiden Visa dan para pemateri

Salah satu kunci sukses usaha udah pasti pengelolaan keuangan yang baik. Tapi… sebelum ke sana, kita bahas yang paling dasar dulu. Kata Mbak Prita, tantangan memulai usaha itu ada 2, yaitu:
1.    Enggak tahu mau bisnis apa?
2.    Enggak tahu untung atau rugi?

Buat menjawab yang pertama, kita bisa bikin analisis SWOT. Tulis secara terperinci apa aja kekuatan (strengths) kita, kelemahan (weaknesses) kita, peluang (opportunities), dan ancaman (threats). Jadi ketahuan kan apa kita bisa ngejalanin suatu usaha apa enggak. Bisa juga ambil peluang bisnis yang lagi ramai atau sesuai hobi. Tapi, meskipun berdasar hobi, ngejalaninnya enggak bisa suka-suka. Mesti pegang komitmen. Kecuali memang ya niatnya mau bakar uang. Jangan, gaess. Mending uangnya kasiin ke saya aja, eh. Inget-inget kata Mbak Prita kita bukan nyari buzzy-ness tapi mau ber-business. Kalau cuman mau nyari kerjaan atau kesibukan, mending waktunya dimanfaatkan buat keluarga. Masalahnya sebagai ibu, kita pan mesti ngurus anak dan suami. Jangan sampai keluarga terbengkalai, tapi uang tak kunjung datang. 
Untuk menjawab pertanyaan kedua, tolong… tolong banget jangan dijawab pakai ‘kayaknya’ atau feeling. Main feeling-feeling-an suka meleset soalnya. Biar valid cara baca kemungkinan untung ruginya, kita mesti paham dulu modal dan kebutuhan dasar usaha kita. 

Mbak Prita Ghozie sedang memaparkan materi

Modal dan kebutuhan dasar UMKM dibagi menjadi 3, yaitu:
1.    Modal investasi awal, seperti properti, fasilitas, sampai pelatihan tenaga kerja. Misalnya nih soal tempat. Sering terjadi kita enggak menganggarkan biaya sewa tempat karena memakai rumah sendiri. Giliran usaha udah gede, udah butuh tempat terpisah, pusing sendiri karena tiba-tiba ada pengeluaran sewa tempat. Jadi bingung, “Kok dulu waktu masih di rumah, untung, ya. Pas pindah, malah jadi rugi.” Maka dari itu modal investasi awal mesti dihitung secara menyeluruh.
2.    Modal kerja operasional, seperti barang yang kita dagangkan.
3.    Biaya tetap, seperti biaya buat beli kuota, listrik, sampai biaya promosi. Berarti biaya promosi ini enggak dianggarkan sekali-kali.


Ada 2 pertimbangan kunci dalam usaha:
1. Pembiayaan:
Ini terkait sama usahanya pakai dana sendiri atau pinjaman. Saran Mbak Prita sih kalau mau pakai dana sendiri, baru nanti pas mau perluasan usaha memakai dana pinjaman.
2. Operasional:
- Praktis dan taktis
- Strategi mencapai tujuan usaha


Masalah klasik tapi berlaku melampui zaman tuh persoalan ‘enggak suka misahin dana usaha dan keuangan pribadi’. Ini nih saya ngerasain banget. Apalagi ketika pakai satu rekening. Udah pusing sendiri aja ini uang masuk keluar buat apa dan dari mana. Tolong jangan dicontoh, gaess. Karena itu kita mesti disiplin membuat laporan keuangan usaha yang terdiri dari:
-    Neraca
-    Laporan laba rugi
-    Catatan atas laporan keuangan
Ngaku deh, belum-belum udah puyeng sendiri ngebayangin mesti bikin berbagai laporan itu? Tapi ya kalau mau serius usaha nggak boleh males atau pakai alibi enggak tahu cara bikinnya. Kita bisa cari tahu di internet kok kayak apa laporannya.



Terus, gimana parameter kita menilai keuangan kita sehat atau enggak?
1.    Punya utang? Kalau iya, utang yang dimiliki itu utang produktif. Semacam untuk perluasan usaha. Kemudian cicilan di bawah 30%.
2.    Biaya hidup lebih kecil dari pemasukan. Biaya hidup kita maksimal menghabiskan 50% dari pemasukan. Yang gawat itu ketika kita enggak paham prioritas, alias lebih mengutamakan gaya hidup.
3.    Punya dana darurat. Dana ini jumlahnya minimal 3 kali pengeluaran rutin dan berbentuk kas. mesti digarisbawahi adalah sebagai freelancer atau pengusaha, jangan main-main dengan dana darurat. Karena kita gak gajian. Jangan sampe nggak menyediakan dana darurat. Kalau ada apa-apa gimana? Sebagai pengusaha, sekarang atau kelak, kita akan punya pegawai yang mesti digaji. Segenting apa pun keadaan usaha kita, mereka tetap berhak mendapat gaji. Dana darurat ini bisa dipakai untuk itu.
4.    Punya tabungan. Tabungan ini terbagi dua, yaitu tabungan buat rencana dan investasi masa depan.


Last, Mbak Prita ngasih saran sistem keuangan bernama “ZAPFIN” yang merupakan akronik dari:
Z: zakat
A: assurance
P: present consumption
F: future spending
IN: investment


Pak Teguh sedang memberi materi

Sehabis sesi Mbak Prita, giliran Pak Teguh yang ngasih materi. Kali ini ngobrolin soal dana pinjaman. Pak Teguh mengingatkan ketika kita mau ngambil dana pinjaman, sebaiknya dihitung dulu kebutuhan pendanaan lalu ditambah 10% dari kalkulasi. Terus ini catetan banget, kalau mau pinjam, berutanglah ke sumber pendanaan yang terdaftar di OJK. Biar enggak kena tipu-tipu.
Sumber pendanaan pinjaman itu apa saja?
1.    Bank
2.    Lembaga keuangan (multifinance)
3.    P2P lending (pinjaman online)
Banyak denger kasus soal pinjaman online? Sebenernya enggak usah takut meminjam selama sudah dibaca baik-baik persyaratan dan dipertimbangkan baik-baik risikonya. Jangan mengambil risiko yang enggak bisa kita tanggung. Intinya sih mau pinjem ke mana pun mesti bijak dan sebaiknya dipakai buat hal yang produktif.



Gimana… gimana… kece, nggak, tips dari Mbak Prita dan Pak Teguh? Mari praktik, ibu-ibu. Soalnya teori tetap teori selama enggak dilaksanakan. Sekarang… udah siap dong jadi ibu pelaku UMKM yang bijak.

You Might Also Like

3 komentar:

  1. makasih sahringnya. bermanfaat

    BalasHapus
  2. Nah ini solusi bngt.. makasih infonya mbae

    BalasHapus
  3. Duh, banyak bahasan yang menohok ya. Hihihi. Tapi aku senang ikut workshop ini. Jadi makin melek literasi keuangan

    BalasHapus