Aplikasi,

Mengenal Koperasi Sahabat UMKM

17.14 Eva Sri Rahayu 20 Comments

 

Koperasi sungguh tak asing di telinga. Sejak kecil, koperasi sering saya dengar, baik dari TV maupun dari guru yang menerangkan di depan kelas bahwa koperasi merupakan soko guru ekonomi. Namun, terus terang saja, saya tak begitu mengenal koperasi dan bagaimana sepak terjangnya di masa kini. Tampaknya begitu juga dengan generasi remaja dan dewasa muda. Pasalnya saya jarang menemukan perbincangan mengenai koperasi di media sosial yang mereka gandrungi. Berkaca pada diri, sesungguhnya bukan saya tidak tertarik pada koperasi, tapi seperti peribahasa “Tak Kenal Maka Tak Sayang” saya pikir saya dan lainnya bila mengenal dekat koperasi mungkin akan tertarik menjadi anggota dan aktif di dalamnya. 

 

Beruntungnya saya bisa mengikuti webinar bertajuk “Masihkah Koperasi Menjadi Andalan?” yang diselenggarakan Indonesian Cosortium for Cooperative Innovation (ICCI) pada 13 Agustus 2020 lalu. Saya bisa mendengarkan paparan mengenai seluk beluk koperasi dari para pakar dan pelaku, termasuk di dalamnya ada Bapak Teten Masduki selaku Menteri Koperasi dan UKM Republik Indonesia.

 

 

Tema yang diusung webinar ini sungguh menggelitik. Membuat saya penasaran mengenai perkembangan koperasi di masa sekarang. Menutup pemaparan, Bapak Teten Masduki mengatakan bahwa “koperasi harus jadi pilihan rasional” tidak lagi memaksakan keanggotaannya. Artinya masyarakat mesti teredukasi bahwa koperasi merupakan jawaban dan solusi perekonomian di Indonesia karena berasas pada kekeluargaan dan gotong royong. Saya teringat pada kasus-kasus peminjaman pada “bank keliling” yang menerapkan bunga tinggi dan “pinjaman online” yang cara penagihannya sampai menghubungi semua kontak yang disimpan peminjam di ponselnya. Maraknya kasus ini karena kemudahan peminjaman di dua tempat tersebut. Padahal ada Koperasi Simpan Pinjam yang secara sistem lebih menguntungkan bagi anggota maupun koperasi yang menaunginya karena sistem birokrasinya sederhana dan mudah dipahami seluruh lapisan masyarakat. Tampaknya dibutuhkan inovasi promosi dan edukasi yang lebih massif pada masyarakat dan UMKM agar pilihan mereka jatuh pada koperasi. Memang, citra koperasi sempat tercoreng oleh ulah oknum yang mengatasnamakan koperasi melakukan praktik investasi bodong padahal tidak terdaftar sebagai lembaga koperasi. Berita itu viral sehingga koperasi mendapat stigma negatif. Untuk menangani hal itu, penguatan pengawasan koperasi mengajukan usulan Penetapan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) anggota koperasi dan aturan sanksi pidana juga denda.

 

 

 Bapak Rully Nuryanto (Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi) menjelaskan bahwa usaha-usaha edukasi saat ini sedang digalakkan. Salah satunya memanfaatkan perkembangan IT di masa revolusi industri 4.0. Kekuatan media sosial dan berbagai platform digital membantu penyebaran edukasi itu hingga bisa sampai ke jaringan yang sangat luas dan dengan cepat. Usaha berbasis e-commerce dan UMKM sedang bergeliat. Dengan menjadi anggota koperasi, para pengusaha UMKM dapat mengajukan penambahan modal usaha juga terbantu pemasarannya karena koperasi menyediakan marketplace. Pak Rully membaca bahwa kaum milenial cenderung menyukai pembangunan usaha berbasis komunitas sehingga sistem koperasi cocok untuk mereka.

Dalam webinar tersebut ada dua koperasi yang memaparkan mengenai inovasi dan program-program yang mereka jalankan. Terus terang saya terkesan mendengarnya. Saya juga jadi tahu bahwa ternyata anggota koperasi di Indonesia ini banyak.

 

Koperasi Simpan Pinjam Sahabat Mitra Sejati

Koperasi ini memiliki tujuan membantu pemberdayaan usaha sektor kecil dan menengah, sehingga anggotanya merupakan para pelaku UMKM. Hal paling menarik yang disampaikan oleh Bapak Ceppy Y Mulyana (Ketua KSP Sahabat Mitra Sejati) adalah inovasi mereka di bidang digital. KSP Sahabat Mitra Sejati sudah mengembangkan aplikasi sendiri untuk mewadahi program simpanan online Sobatku. Hal ini memudahkan anggota yang tersebar di 28 provonsi untuk melakukan transaksi. Saat ini total asset yang dikelola mencapai 3,5 triliun.

Sejalan dengan perkembangan zaman dimana kolaborasi menjadi salah satu kunci, KSP telah berkolaborasi dengan OJK, koperasi lain, lembaga perbankan, merchant seperti kantor pos, pendamping usaha Karya Usaha Sesama (KUS), dan lainnya.


 

 

Koperasi Mitra Dhuafa (KOMIDA)

Hal pertama yang membetot atensi saya pada KOMIDA adalah anggotanya terdiri dari para perempuan kelas menengah bawah yang telah memiliki usaha atau baru memulai usaha, dan mayoritas tinggal di perdesaan. Baik terdaftar sebagai perorangan, kelompok, maupun center. Menurut penjelasan Bapak Sugeng Priyono (Direktur Operasional Komida) visi misi mereka adalah pemberdayaan perempuan dengan memperhatikan tiga aspek, yaitu usaha, kesehatan, dan pendidikan. Ketiga aspek tersebut tidak bisa terpisahkan karena ketika pendidikan anak dan kesehatan keluarga terjamin, perempuan dapat konsisten menjalankan usahanya.  

Lembaga yang resmi menjadi koperasi pada Juli 2009 ini telah memiliki 313 cabang yang tersebar di 13 provinsi. Produknya sendiri terdiri dari layanan simpanan dan pinjaman. Simpanan pokoknya pun tidak memberatkan yaitu Rp50 ribu yang dapat dicicil selama satu tahun.

Saya cukup terharu mendengar penjelasan mengenai KOMIDA, ada lembaga yang mau khusus menaungi perempuan dengan keadaan ekonomi menengah ke bawah. Saya harap dukungan ini bisa mendorong kepercayaan diri para perempuan untuk makin berdaya dan mandiri.


 

You Might Also Like

20 komentar:

  1. Sekarang orang-orang pada seneng pinjam melalui aplikasi pinjol, padahal koperasi simpan pinjam lebih aman. Keberadaan Komida ini membantu banget untuk ekonomi menengah ke bawah

    BalasHapus
  2. Saya kenal Koperasi sejak balita, Mbak Eva. Soalnya suka diajak Ibu saya ke koperasi belanja sembako pas masih tinggal di asrama tentara. lalu pas SD, ada koperasi sekolah yang beli buku tulis dan alat tulis di sana . Lanjut SMP ada pelajaran Ekop (Ekonomi dan Koperasi).

    Tapi sampai kapan pun, keberadaan Koperasi akan terus ada. karena masih dibutuhkan oleh masyarat. Hanya bagusnya memang meminjam di koperasi yang jelas. Soalnya sekarang banyak aplikasi pinjamin online. Mudah syaratnya, tapi tinggi benar bunganya.

    BalasHapus
  3. sering banget denger kata koperasi, bahkan semenjak SMA pun udah mendengar koperasi tapi belum pernah nyobain pinjam ataupun ikutan koperasi hihihi, jadi kepo deh aku

    BalasHapus
  4. Teringat dlu ikut mengelola dagangan koperasi sekolah jaman SMA heheh, sekarang koperasi disalah gunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab sehingga mengurangi minta masyarakat thd koperasi

    BalasHapus
  5. Koperasi kalau ga salah didirikan oleh Bung Hatta ya? kebukti dari jaman dulu sampe jaman sekarang lembaga ini bener-bener membantu masyarakat dlm bidang ekonomi😊

    BalasHapus
  6. ah iya, koperasi ini kok kayak dilupakan ya
    orang lebih sering pinjam ke yang online, padahal ada yang lebih manusiawi dengan koperasi

    BalasHapus
  7. sekarang nampaknya tempat peminjaman makin banyak yang online dan sehingga koperasi ini mulai sepi, padahal sistemnya koperasi ini lebih aman saya rasa, soalnya dulu paman sana sepupu ada simpan juga ke koperasi itu, aman dan lancar semuanya, sampai pembagian SHU clear gitu, jadi pihak koperasi harus lebih banyak sosialisasi lagi kalau menurut saya. webinarnya sangat bermanfaat ya kak

    BalasHapus
  8. Setuju dengan yang disampaikan Pak Rully Nuryanto, Deputi bidang kelembagaan, kaum milenial itu emang cenderung menyukai usaha berbasis komunitas sehingga bentuk usaha seperti koperasi ini cocok buat milenal dalam membangun usahanya ya

    BalasHapus
  9. Selama ini koperasi masih dianggap sebelah mata ya. Apalagi setelah ada kasus orang yang menyalahgunakan nama koperasi untuk keperluan investasi bodong. Padahal dengan koperasi kita bisa saling membantu, terutama untuk UMKM yang kini menjadi andalan perkembangan ekonomi masyarakat.

    BalasHapus
  10. wah iya bener, citra koperasi memang sempat tercoreng karena investasi bodong ya.. Menarik banget nih tema webinarnya, jadi lebih rau deh tentang koperasi. makasi sharingnya yaaaa

    BalasHapus
  11. Aku baru tahu tentang komida. Iya sejak dulu koperasi jadi pilihan ya. Semoga sekarang masih. Meskipun banyak lembaga ato komunitas lain

    BalasHapus
  12. Dr zaman SD sy udah kenal koperasi, di sekolah jg ada tp kini mereka kurang populer n saat ny kembali ke badan usuus yang sejahtera kan anggota ny

    BalasHapus
  13. Waktu SMA aku jadi pengurus koperasi siswa dong dan belajar banyak dari situ :) Semoga koperasi Indonesia ke depannya makin baik ya. Apalagi dikelola generasi milenial yang lebih open minded :)

    BalasHapus
  14. Aku baru tau tentang Komida ini, semoga banyak yang kenal Komida ya soale banyak juga tuh pedagang kecil yang meminjam dana ke bank keliling yang bunganya cukup besar.

    BalasHapus
  15. Bener banget nih,koperasi itu kan dari peserta,untuk peserta yah,jadi keberadaan koperasi sangat membantu untuk keberlangsungan para UMKM nih.apalagi dimasa pandemi swperti ini ya.

    BalasHapus
  16. Dukung selalu untuk koperasi kita yang memberikan dukungan untuk UMKM dan juga para wanita agar semangat berdaya meski di masa pandemi ini

    BalasHapus
  17. Dari dulu koperasi udah terkenal membantu pengusaha baru, tapi sayangnya memang agak redup ya, apalagi dimana-mana banyak pinjol. Semoga koperasi kembali makin dikenal dalam membantu UMKM

    BalasHapus
  18. Dukung selalu koperasi membantu pengusaha baru yah dan membantu para UMKM juga dengan membeli produk

    BalasHapus
  19. Koperasi udha kebukti banget yah membantu UMKM. Aku jadi inget jaman SMP gantian jaga koperasi sekolah. Seru dan bermanfaat banget. Belajar berwirausaha

    BalasHapus
  20. Saya juga masih percaya sama koperasi..karena sistemnya yang sangat sesuai dengan karakter masyarakat kita...Terbukti koperasi sampai sekarang masih banyak berperan di perekonomian kita ya..

    BalasHapus