Atlet Difabel,

Tips Menghadapi Ketidakpastian di Masa Pandemi Ala Laura Aurelia Dinda

05.44 Eva Sri Rahayu 2 Comments

 

Setiap orang punya cara berjuangnya sendiri dalam keadaan dan latar berbeda. Namun, masa pandemi ini memberi satu benang merah dalam medan juang kita. Segalanya berubah dengan cepat dan tak pasti. Seluruh dunia menghadapi pembatasan-pembatasan yang sama. Ada tantangan jarak dan ruang demi kesehatan bersama. Efeknya ternyata sangat besar ketika tak ada ruang-ruang pertemuan fisik. Ada hobi-hobi dan pekerjaan yang mesti ditunda bahkan tak bisa dijalani. Padahal hal-hal itulah yang menjadi tumpuan kita menghilangkan stres atau tulang punggung penghasilan. Salah satu yang tertunda adalah gelaran-gelaran olahraga. Seperti yang dialami Laura Aurelia Dinda, atlet difabel renang Indonesia pemenang medali emas di ASEAN Para Games 2017 dan World Para Swimming Championship 2018, yang sementara harus beristirahat dari kegiatan berenangnya.


Ceritanya saya simak hari Rabu lalu di Fun Talk yang diadakan @homecreditid bertema "Tetap Asik Hadapi Momen Serba Gak Pasti". Seru sekali deh obrolannya! Meskipun awalnya Laura berenang untuk terapi asma mulai usia 7 tahun, akhirnya Laura bersungguh-sungguh menjalaninya hingga bersinar di kancah dunia. Tamparan kehidupan dari perubahan masa pandemi ini bukan hal pertama yang dialaminya. Tahun 2015, Laura mengalami kecelakaan yang membuatnya lumpuh. Kejadian yang sangat mengubah hidupnya.

Tips Menghadapi Ketidakpastian di Masa Pandemi Ala Laura Aurelia Dinda

Belajar dari masa keterpurukannya hingga bangkit dan meraih juara, Laura bisa beradaptasi dengan ketidakpastian di masa pandemi ini hanya dengan waktu 2 minggu. Waktu yang fantastis, ya! Terus terang saja, saya sendiri butuh waktu berbulan-bulan. Nah, apa sih tips Laura dalam menghadapi ketidakpastian di masa pandemi? Laura memegang 3 kunci penting.

 

 

 1.    Jangan terlalu keras pada diri sendiri
Pada saat menghadapi suatu tantangan hidup, seringkali kita menekan diri terlalu keras yang tanpa sadar menorehkan trauma dan luka batin. Tidak memberi ruang untuk memahami emosi diri. Padahal ketika kita mengenali emosi-emosi kita, kita bisa menghadapi segala tantangan dengan lebih jernih. Begitu pula yang terjadi pada Laura. Laura yang perfeksionis ingin segalanya maksimal hingga terus menekan diri. Sebagai solusinya, Laura memilih konseling pada psikolog. Bersama psikolog, Laura belajar menerima, memahami, dan mencari solusi untuk menjalani kehidupan atlet yang keras dan sifat perfeksionisnya. Intinya berbagai cara untuk memahami berbagai emosi dan tahu kapan kita butuh bantuan—bisa pada keluarga atau sahabat—juga menyadari keterbatasan sehingga tidak terlalu keras pada diri. Saya setuju, cukup kehidupan yang menampar-nampar kita, kita berjuang sebaik-baiknya dan menikmatinya dengan memahami emosi diri supaya bisa bahagia.

 2.    Menentukan prioritas
Banyak hal yang ingin dicapai, ingin ini itu, ingin begini begitu. Misalnya saya sendiri ingin membeli banyak buku, skincare, dan perlengkapan berkebun. Tapi di masa tidak pasti ini kita mesti menentukan dan memegang prioritas. Fokus pada tujuan jangka panjang dan jangka pendek, jangan mudah terdistrak. Laura memfokuskan diri pada kegiatan perkuliahannya yang menuju semester akhir. Mengejar impiannya menjadi psikolog. Impian ini dilatarbelakangi pengalaman pribadinya. Selain ingin menghapus stigma negatif konseling pada psikolog, dia juga kelak ingin membaktikan diri untuk masyarakat lewat profesi tersebut.


3.    Be kind to other
Kita bisa gampang sekali menghakimi dan menilai orang lain, tanpa melihat latar belakang dan keadaan yang membuat seseorang memutuskan berbuat suatu hal. Kita tidak pernah tahu apalagi memahami perasaan orang tersebut. Laura memberi tips agar kita selalu belajar melihat dari sudut pandang orang lain juga, agar mengerti mengapa seseorang melakukan ini dan itu. Pada masa pandemi ini tingkat stress lebih tinggi, karena itu Laura menyarankan untuk berbuat baik pada banyak orang. Saling mengerti posisi sulit saat ini. Kalau kita ingin diperlakukan baik oleh orang lain, terlebih dahulu kitalah yang harus bersikap seperti itu.

Gimana tipsnya? Inspiratif, ya! Oh iya, kalau kamu pengin dapet berbagai insight menarik lewat obrolan seru dan mengasyikan, tonton aja obrolan dengan berbagai topik yang mengajakmu #AyoMajuBersama di akun Instagram @homecreditid setiap minggunya.
Tetap semangat untuk produktif di masa tidak pasti ini, ya.

 

You Might Also Like

2 komentar:

  1. Inspiratif bngt , semoga masa pandemi ini cepet gowwwww

    BalasHapus
  2. We skipped 3D printer kits, that are cheaper however require a great deal of|quite lots of|a substantial quantity of} meeting, in favor of machines that print handsome components straight out of the box with as little maintenance required as potential. This model is finest for bigger or taller printing jobs, corresponding to cosplay or artwork pieces. I never owned an mSLA 3D printer however from what I examine them, despite their ability to print faster than the SLA ones AND being lots cheaper, I still wouldn't commerce Pencil Sharpener my two Forms in for one... The variations between the base non-pro three to the v2 is comfort.

    BalasHapus